RADARTUBAN - Di era digital, peran ayah tidak lagi sekadar pencari nafkah. Ia juga dituntut hadir secara emosional.
Tapi bagaimana caranya hadir, ketika waktu habis di jalan, di kantor, di layar?
Bagaimana caranya dekat, ketika jarak bukan lagi soal fisik, tapi soal perhatian?
Inilah dilema ayah urban hari ini: sibuk bekerja demi keluarga, tapi takut jadi asing di mata anak sendiri.
Baca Juga: Azizah Salsha Kena Cancel Culture, Sang Ayah Mempertanyakan Dosa Sang Anak
Ayah yang Selalu Pulang, Tapi Tak Pernah Benar-Benar Hadir
Banyak ayah pulang larut malam, ketika anak sudah tidur. Lalu pagi-pagi sudah berangkat lagi, ketika anak belum bangun.
Di akhir pekan, tubuh lelah, pikiran penuh, dan kadang malah sibuk dengan ponsel.
Anak tumbuh, tapi ayah tak sempat menyaksikan. Anak berubah, tapi ayah tak sempat mengenali. Dan perlahan, hubungan jadi formal. Jadi canggung. Jadi jauh.
Baca Juga: Ayah, Sosok yang Tak Pernah Minta Dikenang: Refleksi di Hari Ayah Nasional 12 November
Bekerja Keras Itu Mulia, Tapi Kedekatan Butuh Waktu
Tidak ada yang salah dengan bekerja keras. Justru itu bentuk cinta. Tapi cinta juga butuh kehadiran. Butuh percakapan. Butuh pelukan. Butuh waktu yang tidak selalu produktif, tapi penuh makna.
Karena anak tidak akan ingat berapa banyak uang yang ayah hasilkan. Tapi mereka akan ingat siapa yang menemani mereka saat takut.
Siapa yang mendengarkan cerita mereka. Siapa yang hadir, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara hati.
Ayah Juga Manusia, dan Itu Tidak Apa-Apa
Ayah sering kali merasa harus kuat. Harus tahu segalanya. Harus tahan banting. Tapi di balik itu, ada rasa takut. Takut gagal. Takut tidak cukup.
Takut jadi orang tua yang jauh. Dan itu wajar. Karena jadi ayah di era sekarang bukan hal mudah. Tapi justru karena itu, setiap usaha untuk mendekat—sekecil apa pun—sangat berarti.
Kedekatan Tidak Datang Sendiri, Ia Harus Diperjuangkan
Ayah di era digital harus belajar menyeimbangkan. Antara kerja dan keluarga.
Antara layar dan tatapan. Antara sibuk dan hadir. Karena anak tidak butuh ayah yang sempurna.
Mereka butuh ayah yang mau berusaha. Jadi, kalau hari ini kamu pulang lebih cepat, menyimpan ponsel sebentar, dan mendengarkan cerita anakmu, itu sudah langkah besar.
Karena kedekatan tidak datang tiba-tiba. Ia dibangun. Ia dirawat. Ia diperjuangkan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni