RADARTUBAN - Ayah sering digambarkan sebagai tiang rumah tangga. Penopang keluarga.
Sosok yang harus kuat, harus tahan banting, harus bisa segalanya. Tapi di balik semua itu, ada sisi sunyi yang jarang dibicarakan: Ayah juga manusia. Tapi sering kali tidak punya tempat untuk mengeluh.
Tuntutan Sosial yang Diam-Diam Menekan
Sejak kecil, laki-laki diajarkan untuk tidak menangis. Untuk tidak lemah. Untuk tidak mengeluh.
Dan ketika mereka menjadi ayah, tuntutan itu makin keras. Harus bekerja, harus tenang, harus jadi solusi.
Tapi siapa yang jadi tempat mereka bersandar? Siapa yang bertanya, “Kamu baik-baik saja?” Karena di mata banyak orang, ayah tidak boleh rapuh.
Padahal, justru karena ia memikul banyak hal, ia paling butuh ruang untuk bernapas.
Baca Juga: Ayah, Sosok yang Tak Pernah Minta Dikenang: Refleksi di Hari Ayah Nasional 12 November
Lelah yang Disimpan, Emosi yang Dipendam
Banyak ayah yang merasa stres, cemas, bahkan depresi. Tapi mereka tidak tahu harus bicara ke siapa. Tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan. Maka mereka diam. Menyimpan semuanya sendiri.
Dan pelan-pelan, sisi sunyi itu berubah jadi luka. Luka yang tidak terlihat. Tapi terasa. Dalam sikap yang makin dingin. Dalam jarak yang makin jauh. Dalam senyum yang makin jarang muncul.
Ayah Butuh Ruang, Bukan Sekadar Peran
Menjadi ayah bukan berarti harus sempurna. Bukan berarti harus tahu semua jawaban. Tapi sistem sosial kita sering kali tidak memberi ruang untuk itu. Tidak memberi ruang untuk ayah yang bingung.
Ayah yang lelah. Ayah yang butuh dipeluk. Padahal, memberi ruang untuk ayah mengeluh bukan tanda kelemahan. Tapi tanda bahwa kita mengakui bahwa ia juga manusia.
Mari Dengarkan Sisi Sunyi Itu
Kalau kamu punya ayah, atau jadi ayah, atau akan jadi ayah, ingatlah bahwa kekuatan bukan berarti diam.
Bahwa menjadi penopang bukan berarti harus memendam. Bahwa mengeluh bukan dosa.
Karena di balik sosok ayah yang tenang, ada cerita yang tidak pernah selesai. Dan kadang, yang paling dibutuhkan bukan solusi.
Tapi pelukan. Dan kalimat sederhana: “Kamu nggak harus kuat terus, kok.” (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni