Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

60 Persen Korban adalah Milenial dan Gen Z: Mengapa Anak Muda Jadi Sasaran Utama Jaringan Narkoba?

Bihan Mokodompit • Minggu, 16 November 2025 | 20:05 WIB
Ilustrasi seruan anti narkoba.
Ilustrasi seruan anti narkoba.

RADARTUBAN - Fenomena Kerentanan Generasi Muda Terhadap Narkoba semakin menjadi kekhawatiran serius setelah data BNN mencatat bahwa 60 persen korban penyalahgunaan narkoba berasal dari usia produktif.

Mayoritas dari mereka adalah Generasi Milenial dan Gen Z yang sebenarnya merupakan aset penting dalam mendukung masa depan bangsa.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa strategi Pencegahan Narkoba harus diperkuat dengan pendekatan yang lebih relevan dan sesuai dengan dinamika anak muda saat ini.

Tekanan Sosial dan Lingkungan Digital Tingkatkan Kerentanan Generasi Muda Terhadap Narkoba

Dalam laporan BNN tahun 2025, tercatat bahwa kelompok Generasi Milenial dan Gen Z merupakan segmen yang paling banyak terdampak.

Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Sri Wahyuni, menegaskan bahwa fenomena ini sudah masuk kategori darurat nasional karena menyangkut keberlangsungan generasi penerus Indonesia.

“Ini bukan sekadar masalah kesehatan. Ini ancaman strategis bagi masa depan bangsa, terutama di tengah harapan besar terhadap bonus demografi,” tegas Sri Wahyuni.

Ia menjelaskan bahwa tekanan akademik, tuntutan sosial, kesepian digital, hingga minimnya edukasi yang relevan menjadi faktor dominan yang membuat kelompok ini lebih rentan.

Bahkan, narkoba sintetis kini jauh lebih mudah diakses, terutama lewat jalur digital yang sehari-hari digunakan oleh Generasi Milenial dan Gen Z.

“Ironisnya, narkoba sintetis seperti sabu dan ekstasi kini lebih mudah diakses daripada vaksin. Penjualannya menyebar lewat jalur gelap, media online, hingga aplikasi pesan,” ujarnya prihatin.

Pencegahan Narkoba Harus Berbicara dengan Bahasa Anak Muda

Menurut Sri Wahyuni, program Pencegahan Narkoba tidak bisa lagi disampaikan dengan metode lama.

Kesadaran generasi digital harus dibangun melalui medium yang dekat dengan mereka, TikTok, podcast, seni, dan tokoh inspiratif yang mereka ikuti setiap hari.

Pendekatan yang terlalu formal justru tidak mampu menembus ruang pikir anak muda saat ini.

“Ceramah ‘jangan pakai narkoba’ tidak lagi cukup. Kita harus berbicara lewat medium yang mereka sukai, TikTok, podcast, seni, dan tokoh inspiratif,” kata Sri Wahyuni.

Langkah tersebut dinilai perlu dilakukan untuk menekan Kerentanan Generasi Muda Terhadap Narkoba, sekaligus memotivasi mereka agar memahami bahwa hidup yang bermakna jauh lebih bernilai daripada sensasi sesaat.

Bonus Demografi Terancam Jika Kerentanan Generasi Muda Terhadap Narkoba Tidak Ditangani

Situasi ini bukan sekadar statistik semata. Setiap hari, 50 orang meninggal akibat narkoba, dan mayoritas berasal dari Generasi Milenial dan Gen Z.

Sri Wahyuni menegaskan bahwa angka tersebut menggambarkan hilangnya mimpi, masa depan, serta potensi bangsa.

“Lima puluh jiwa yang hilang hari ini berarti lima puluh impian yang padam, lima puluh keluarga yang hancur. Jika kita gagal hari ini, besok bangsa ini kehilangan masa depannya,” ucapnya.

Dia menegaskan bahwa keberhasilan Pencegahan Narkoba membutuhkan kolaborasi menyeluruh, mulai dari pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, hingga masyarakat luas, untuk benar-benar mengurangi Kerentanan Generasi Muda Terhadap Narkoba di seluruh daerah. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Milenial #bnn #Gen Z #anak muda #strategi #narkoba