RADARTUBAN - Pernah nggak kamu merasa ragu sebelum mengambil keputusan, lalu tiba-tiba terbayang: “Aduh, kalau aku nggak ambil kesempatan ini, pasti nyesel nanti.” Nah, ternyata perasaan semacam itu bukan sekadar drama pribadi.
Dalam dunia psikologi, fenomena ini punya nama: anticipated regret penyesalan yang diantisipasi.
Penelitian oleh Charles Abraham (University of Sussex) dan Paschal Sheeran (University of Sheffield) menemukan bahwa orang yang membayangkan penyesalan di masa depan cenderung membuat keputusan lebih baik.
Jadi, rasa “takut nyesel” itu sebenarnya bisa jadi kompas hidup.
Baca Juga: Kepulangan Barcelona ke Camp Nou Terancam Molor, Dewan Kota Mendadak Tunda Keputusan
Apa Itu Anticipated Regret?
Secara sederhana, anticipated regret adalah proses mental ketika kita membayangkan versi diri kita di masa depan yang menyesal karena keputusan hari ini.
• Keputusan yang tadinya abstrak jadi terasa nyata.
• Pertimbangan logika berpadu dengan empati terhadap diri sendiri di masa depan.
• Hasilnya: kita lebih hati-hati, lebih bijak, dan lebih realistis dalam memilih.
Kenapa Bisa Membantu?
• Mengurangi impulsif: Bayangan penyesalan membuat kita berpikir ulang sebelum asal bertindak.
• Meningkatkan motivasi: Kita jadi lebih terdorong untuk mengambil langkah yang benar agar tidak menyesal.
• Memberi perspektif jangka panjang: Tidak hanya soal “hari ini”, tapi juga tentang “nanti”.
Contoh sederhana: kamu ragu ikut kursus bahasa. Kalau dibayangkan, “Nanti lima tahun lagi aku nyesel karena nggak bisa bahasa asing,” maka kemungkinan besar kamu akan lebih termotivasi untuk ikut.
Cara Menerapkan Anticipated Regret
1. Bayangkan diri di masa depan: Apa yang akan kamu rasakan jika keputusan ini salah?
2. Tulis skenario penyesalan: Kadang menuliskannya membuat lebih jelas.
3. Gunakan sebagai kompas: Bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menuntun.
4. Seimbangkan dengan logika: Jangan hanya pakai perasaan, tetap gunakan pertimbangan rasional.
Anticipated regret mengajarkan kita bahwa penyesalan bisa jadi guru, bahkan sebelum ia benar-benar terjadi.
Dengan membayangkan versi diri kita yang menyesal di masa depan, kita bisa membuat keputusan yang lebih bijak hari ini.
Jadi, kalau kamu sedang bingung memilih, coba bayangkan: “Kalau aku nggak ambil langkah ini, apakah aku akan nyesel nanti?” Kalau jawabannya iya, mungkin itu tanda untuk bergerak sekarang. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni