Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Panduan Singkat Memahami Keraton Solo, Untuk Kamu yang Masih Bertanya Kenapa Bukan Gusti Bhre yang Jadi Raja?

M. Afiqul Adib • Rabu, 19 November 2025 | 14:10 WIB
Suksesi Keraton Solo, kenapa bukan Gusti Bhre
Suksesi Keraton Solo, kenapa bukan Gusti Bhre

RADARTUBAN - Beberapa hari terakhir, lini masa ramai membicarakan kisruh suksesi di Keraton Solo.

Pertanyaan yang paling sering muncul adalah: “Kenapa bukan Gusti Bhre yang jadi raja?” Lalu, siapa sebenarnya dua orang yang berebut tahta itu? Apa hubungannya dengan Jogja? Dan kenapa suksesi keraton selalu jadi perhatian publik?

Untuk menjawab semua itu, mari kita susun panduan singkat agar tidak bingung lagi ketika topik ini muncul.

Baca Juga: Wonderful Indonesia Wellness 2025 Resmi Dibuka, Solo dan Jogja Jadi Pusat Wisata Kebugaran Nusantara

Perjanjian Giyanti: Awal Cerita Dua Keraton Jawa

Sebelum masuk ke suksesi, kita perlu mundur ke tahun 1755, ketika terjadi Perjanjian Giyanti. Perjanjian ini memecah satu wilayah Mataram menjadi dua:

• Kesultanan Yogyakarta, dipimpin Sultan Hamengkubuwono.

• Kasunanan Surakarta, dipimpin Sunan Pakubuwono.

Sejak saat itu, lahirlah dua garis keturunan panjang: Hamengkubuwono di Jogja dan Pakubuwono di Solo.

Keduanya bertahan hingga hari ini, lengkap dengan tradisi, intrik, dan dinamika masing-masing.

Mengenal Struktur Kekuasaan: Jogja vs Solo

Biar tidak bingung, mari kita sederhanakan:
• Yogyakarta

o Sultan Hamengkubuwono → otomatis menjabat sebagai Gubernur DIY.

o Adipati Paku Alam → otomatis menjadi Wakil Gubernur DIY.

o Jadi, kekuasaan tradisional di Jogja dilembagakan secara formal dalam pemerintahan negara.

• Surakarta (Solo)

o Pakubuwono → Raja Surakarta, pemimpin Keraton Solo.

o Mangkunegara → Adipati Mangkunegaran, pemimpin kadipaten kecil yang berbeda garis keturunan.

o Bedanya dengan Jogja, Keraton Solo tidak masuk dalam struktur pemerintahan formal. Perannya lebih sebagai lembaga budaya, penjaga tradisi, dan simbol sejarah.

Baca Juga: Mahasiswi Penerima KIP Kuliah di UNS Solo Kepergok Dugem, Kampus Bertindak Tegas Cabut Beasiswa

Kenapa Bukan Gusti Bhre yang Jadi Raja?

Nah, ini pertanyaan yang paling sering muncul. Jawabannya sederhana: Gusti Bhre adalah Mangkunegara X, pemimpin Mangkunegaran.

Sementara suksesi yang ramai dibicarakan adalah Pakubuwono, pemimpin Kasunanan Surakarta.

Jabatan Pakubuwono hanya bisa digantikan oleh penerus garis Kasunanan, bukan Mangkunegaran.

Jadi, Gusti Bhre memang bukan “wilayahnya.” Ia punya peran besar sebagai Mangkunegara, tapi takhta Pakubuwono tetap berada di jalur Kasunanan.

Keraton Solo: Ikut Pemerintahan atau Tidak?

Banyak juga yang penasaran, apakah Keraton Solo masih punya peran dalam pemerintahan? Jawabannya: tidak. Berbeda dengan Jogja, Keraton Solo tidak otomatis melahirkan jabatan gubernur atau wakil gubernur.

Perannya kini lebih sebagai: Lembaga budaya yang melestarikan tradisi Jawa, Penyelenggara upacara adat, Simbol sejarah dan pusat pariwisata budaya.

Dengan kata lain, Solo berdiri sebagai institusi budaya, bukan bagian dari struktur pemerintahan negara.

Nah, dengan panduan singkat ini, semoga pertanyaan “Lho, kok bukan Gusti Bhre yang jadi raja?” tidak lagi terdengar di mana-mana.

Jawabannya jelas: karena Gusti Bhre adalah Mangkunegara X, sementara takhta Pakubuwono hanya bisa diwarisi oleh garis Kasunanan.

Keraton Solo dan Jogja memang sama-sama penting, tapi jalurnya berbeda. Jogja dilembagakan dalam pemerintahan, sementara Solo berdiri sebagai penjaga tradisi.

Dan dari perbedaan itu, kita bisa melihat betapa kaya dan rumitnya sejarah Jawa yang masih hidup hingga hari ini. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#gusti bhre #keraton solo #jogja #Perjanjian Giyanti #keraton Jawa