RADARTUBAN - Mengapa orang ngambek bisa jadi salah satu cara halus untuk menarik perhatian, bahkan mereka sebenarnya ingin dibujuk.
Saat seseorang merajuk atau ngambek, itu sering kali bukan sekadar kemarahan, melainkan ekspresi dari kebutuhan emosional mendalam.
Artikel ini akan membahas kenapa orang ngambek tapi berharap untuk dipahami dan dibujuk, serta implikasinya dalam hubungan interpersonal.
Alasan Psikologis di Balik Ngambek yang Sebenarnya Ingin Dibujuk
1. Kebutuhan Perhatian Emosional yang Belum Terpenuhi
Salah satu penyebab utama seseorang ngambek adalah karena kebutuhan validasi dan perhatian emosional yang belum terpenuhi.
Menurut para ahli, perilaku semacam ini bisa terkait dengan attention-seeking behavior atau perilaku mencari perhatian.
Ketika seseorang merasa tidak mendapat pengakuan atau kehadiran dari orang terdekat, merajuk menjadi cara untuk memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang kurang.
Di sisi lain, jika dibujuk, mereka merasa dihargai dan aman secara emosional.
2. Harga Diri Rendah dan Ketidakamanan Diri
Perilaku ngambek sekaligus meminta dibujuk sangat mungkin terkait dengan rendahnya self-esteem (harga diri rendah).
Menurut Medical News Today, salah satu penyebab attention-seeking adalah rendahnya harga diri.
Orang yang merasa kurang yakin pada diri sendiri cenderung mencari afirmasi dari orang lain untuk menenangkan kecemasan batinnya.
Dalam hubungan romantis misalnya, mereka bisa terus-menerus mencari kebutuhan validasi, berharap orang lain meyakinkan mereka bahwa mereka penting dan dicintai.
3. Gaya Keterikatan (Attachment Style) yang Cemas
Menurut teori keterikatan (attachment), mereka yang memiliki gaya keterikatan cemas (anxious attachment) akan lebih sering mencari reassurance atau penguatan dari pasangannya.
Dalam kondisi konflik atau ketika merasa diabaikan, ngambek bisa menjadi salah satu cara untuk “mengukur” sejauh mana pasangan peduli dan mau memberi perhatian ekstra.
4. Konflik Intimasi dan Kemandirian (Affiliative Conflict)
Menurut Affiliative Conflict Theory, dalam hubungan interpersonal ada kebutuhan yang bersaing: kebutuhan akan kedekatan (intimacy) dan kebutuhan akan kebebasan (autonomy).
Saat seseorang merasa jarak emosional (kurang dekat), mereka bisa merespon dengan ngambek agar pasangannya “mendekat” kembali.
Ketika dibujuk, itu seperti koreksi otomatis agar kembali ke titik keseimbangan dalam hubungan.
5. Komunikasi Tidak Langsung Sebagai Strategi
Tidak semua orang mampu menyampaikan apa yang mereka rasakan secara terbuka.
Ada yang lebih nyaman menggunakan ekspresi tak langsung seperti ngambek sebagai cara menyampaikan ketidakpuasan atau rasa sedih.
Dengan cara ini, mereka berharap dibujuk tanpa harus “mengadukan secara langsung”: ini adalah strategi emosional agar kehadiran emosi mereka disadari tanpa menyampaikan tuntutan eksplisit.
Dampak Positif dan Negatif dari Ngambek yang Ingin Dibujuk
• Positif: Bila dipahami dan dibujuk dengan empati, perilaku ngambek bisa memperkuat kedekatan dalam hubungan.
Itu menjadi sinyal bagi pasangan bahwa ada kebutuhan emosional yang signifikan, sehingga komunikasi bisa diperbaiki.
• Negatif: Jika ngambek terlalu sering, bisa menjadi pola “crutch” emosional — bergantung pada dibujuk untuk merasa aman.
Ini bisa melelahkan bagi pihak lain dan menghambat pertumbuhan kemandirian emosional.
Cara Menangani Saat Orang Lain Ngambek dan Ingin Dibujuk
1. Dengarkan dengan Empati
Beri ruang untuk mengekspresikan perasaan tanpa menghakimi. Tanyakan apa yang membuat mereka merasa diabaikan, lalu validasi perasaannya.
2. Turunkan Ego dan Tunjukkan Kepedulian
Kadang, meminta maaf meski tidak sepenuhnya salah bisa sangat efektif. Jangan takut menunjukkan kelembutan dan kerendahan hati.
3. Berikan Kejutan Kecil & Kasih Penegasan Positif
Sentuhan kecil seperti kata-kata manis, pelukan, atau perhatian spontan bisa sangat berarti bagi mereka yang butuh validasi.
4. Bangun Komunikasi Sehat
Dorong mereka untuk menyampaikan kebutuhan emosional dengan lebih terbuka. Latih komunikasi asertif agar konflik kesal tidak selalu melalui ngambek.
Jadi, mengapa orang ngambek tapi ingin dibujuk? Karena di balik ekspresi marah atau menjauh, ada kebutuhan emosional yang kuat: kebutuhan akan perhatian, validasi, dan keintiman.
Memahami akar psikologis ini, seperti rendahnya harga diri, keterikatan cemas, atau konflik kedekatan, bisa membantu kita merespons dengan lebih bijak.
Daripada mengabaikan perilaku “drama”, cara terbaik adalah merangkulnya dengan empati supaya hubungan menjadi lebih sehat dan saling memahami. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni