Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Maraknya Ketahanan Pangan di Rumah: Antara Kesadaran Warga dan Harapan Palsu Pemerintah

M. Afiqul Adib • Minggu, 23 November 2025 | 13:36 WIB
Ketahanan pangan rumah tangga, swasembada pangan.
Ketahanan pangan rumah tangga, swasembada pangan.

RADARTUBAN - Belakangan ini, isu ketahanan pangan di rumah mulai ramai dibicarakan.

Banyak orang mulai menanam sayur sendiri, beternak kecil-kecilan, atau sekadar memastikan dapur tidak bergantung penuh pada pasar.

Dari luar, ini terlihat sebagai kabar baik: ada kesadaran baru bahwa pangan adalah kebutuhan mendasar yang harus dijaga.

Namun, di balik kabar baik itu, ada kabar buruk yang tidak bisa diabaikan. Banyak gerakan ketahanan pangan rumah tangga muncul bukan karena dukungan sistemik, melainkan karena orang merasa hanya bisa mengandalkan diri sendiri.

Pemerintah, seperti biasa, lebih sering memberi harapan palsu daripada solusi nyata.

Baca Juga: BRI Peduli Dukung Ketahanan Pangan Kota Lewat Panen Raya BRInita di Bandung

Kabar Baik: Kesadaran Warga

• Orang mulai sadar bahwa pangan tidak bisa dianggap remeh.

• Menanam cabai, tomat, atau sayur di pekarangan jadi tren positif.

• Ada rasa mandiri: tidak sepenuhnya bergantung pada pasar yang harganya sering naik-turun.

• Gerakan kecil ini bisa jadi fondasi ketahanan pangan yang lebih luas.
Kesadaran ini penting, karena tanpa partisipasi warga, isu pangan hanya jadi jargon.

Kabar Buruk: Mengandalkan Diri Sendiri

• Banyak keluarga melakukan ketahanan pangan karena merasa tidak ada pilihan lain.

• Dukungan pemerintah minim, sering kali hanya berupa slogan atau program sesaat.

• Infrastruktur, akses bibit, dan pendampingan jarang benar-benar sampai ke masyarakat.

• Akhirnya, warga harus berjuang sendiri, dengan segala keterbatasan.
Ketahanan pangan rumah tangga jadi semacam survival mode, bukan hasil kebijakan yang terencana.

Pemerintah dan Harapan Palsu

Sudah jadi kebiasaan: pemerintah rajin bikin kampanye, rajin bikin jargon, tapi eksekusi sering mengecewakan.

• Program pangan sering berhenti di seremoni.

• Janji swasembada berulang kali diucapkan, tapi realitas di lapangan tidak berubah.

• Warga yang sudah berusaha mandiri malah sering tidak mendapat dukungan berarti.

Ketahanan pangan akhirnya lebih banyak jadi tanggung jawab individu, bukan negara.

Isu ketahanan pangan di rumah adalah kabar baik sekaligus kabar buruk. Baiknya, ada kesadaran warga untuk mandiri. Buruknya, kesadaran itu muncul karena pemerintah gagal memberi jaminan.

Jadi, kalau hari ini banyak orang menanam sayur di halaman atau beternak kecil-kecilan, jangan buru-buru bilang itu sekadar hobi.

Bisa jadi itu adalah bentuk keputusasaan yang kreatif. Karena di negeri ini, ketahanan pangan sering kali bukan hasil kebijakan, tapi hasil warga yang tidak mau terus-terusan dikecewakan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#ketahanan pangan #menanam sayur #rumah tangga #program pangan