RADARTUBAN – Sikap positif memang penting untuk menjaga kesehatan mental.
Namun ketika dorongan untuk selalu bahagia justru menekan emosi negatif yang wajar dirasakan manusia, hal itu berubah menjadi toxic positivity—fenomena yang tanpa disadari dapat merusak keseimbangan emosional.
Istilah ini makin sering muncul di media sosial maupun percakapan sehari-hari.
Banyak orang bermaksud menguatkan, tetapi justru menutup ruang bagi seseorang untuk mengekspresikan perasaan sebenarnya.
Berbeda dengan optimisme sehat, toxic positivity menuntut seseorang untuk mengabaikan realitas emosinya.
Menurut pakar kesehatan mental Mary Jo Kreitzer dari University of Minnesota, kondisi ini membuat individu merasa tidak didengar dan bisa berdampak panjang pada hubungan sosial.
Berikut enam tanda toxic positivity yang kerap terjadi tanpa disadari.
1. Tekanan untuk Selalu Terlihat Bahagia
Salah satu ciri utama adalah dorongan untuk terus bersikap ceria meski sedang tidak baik-baik saja, baik berasal dari orang lain maupun dari diri sendiri.
Ucapan seperti “Ayo lihat sisi baiknya!” memang terdengar motivatif, tetapi dapat membuat seseorang merasa perasaannya salah.
Tekanan ini justru memicu stres dan menumpuknya emosi yang tidak tersalurkan.
2. Perasaan Diabaikan dan Tidak Didengarkan
Kalimat seperti “Nanti juga semuanya baik-baik saja” sering digunakan untuk menenangkan, namun justru membuat lawan bicara merasa diremehkan.
Kreitzer menyebut bahwa respon seperti ini menghilangkan ruang untuk memproses perasaan. Akibatnya, hubungan sosial bisa merenggang karena kurangnya empati.
3. Rasa Bersalah Saat Merasakan Emosi Negatif
Banyak orang yang terjebak toxic positivity merasa malu atau bersalah ketika sedih, marah, atau kecewa, seolah itu tanda kelemahan.
Nasihat seperti “Yang penting bersyukur” dapat membuat mereka menganggap emosinya tidak valid. Pada akhirnya, hal ini membuka jalan pada isolasi dan tekanan batin.
4. Emosi Menumpuk dan Sulit Dikendalikan
Memendam rasa tidak nyaman justru membuat seseorang kesulitan mengatur emosinya.
Perasaan yang ditekan dapat meledak sewaktu-waktu karena ruang ekspresinya dibatasi.
Situasi ini juga memicu kegelisahan karena individu tidak belajar mengenali atau memahami apa yang sebenarnya ia rasakan.
5. Kebiasaan Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Budaya media sosial yang menampilkan kebahagiaan palsu mendorong seseorang untuk menyamakan diri dengan kehidupan “sempurna” orang lain.
Tekanan ini membuat seseorang menuntut dirinya untuk terlihat positif, meski hatinya tidak sesuai dengan apa yang ditampilkan.
6. Memberi Nasihat yang Menghakimi
Toxic positivity juga muncul ketika seseorang merespons masalah dengan cara menghakimi, misalnya menyiratkan bahwa masalah terjadi karena kesalahan individu itu sendiri.
Alih-alih memberi dukungan emosional, sikap ini membuat penerima merasa disalahkan dan tidak dihargai.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa setiap orang berhak merasakan emosi negatif dan memprosesnya dengan sehat.
Empati dan penerimaan jauh lebih membantu dibanding tuntutan untuk selalu “baik-baik saja”. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni