Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Transformasi Periklanan: Dari Komunikasi Massal ke Propaganda Digital yang Menuntut Strategi Adaptif

Erlina Alfira Qurrotu Aini • Selasa, 9 Desember 2025 | 03:10 WIB
Ilustrasi pergeseran iklan di era transformasi digital
Ilustrasi pergeseran iklan di era transformasi digital

RADARTUBAN - Dunia periklanan telah melewati era transformasi besar, bergerak dari media konvensional yang bersifat massal menuju platform digital yang sangat personal dan adaptif.

Defri Dwipaputra, seorang Ketua Pelaksana Citra Pariwara membahas berbagai kemunculan iklan legendaris di Indonesia dalam podcast Unfiltered di kanal YouTube Big Alpha.

Menurut Defri, iklan tidak hanya sebagai alat jualan produk, namun juga bisa berfungsi sebagai alat propaganda yang efektif bila dikelola dengan tepat dalam menghadapi perubahan zaman dan pola konsumsi masyarakat.

“Dulu, iklan dikenal lebih autentik karena mempunyai keaslian yang mampu menyentuh sisi kemanusiaan konsumen. Sekarang, iklan fokus pada media digital yang sangat personal, seperti YouTube, TikTok, dan Spotify,” ungkap Defri mengenai pergeseran fundamental tersebut.

Pergeseran ini mengubah pola konsumsi iklan dari sifatnya yang dinikmati bersama (komunal) menjadi sifat individual (personal) atau multiscreen.

Akibatnya, agensi dan brand dituntut untuk memiliki pendekatan kreatif dan strategis agar pesan dapat menjangkau audiens secara tepat tanpa kehilangan esensi orisinalitasnya.

Misalnya, iklan kini tak hanya tampil di televisi atau baliho tapi juga melalui kolaborasi dengan influencer dan konten kreator di media sosial. Walaupun ada anggapan bahwa baliho sudah tidak relevan.

Namun, kenyataannya media offline seperti baliho masih memiliki pasar tersendiri dan dapat dikombinasikan dengan media online untuk menghasilkan efek talkability (perbincangan) yang kuat.

Pendekatan offline-to-online menunjukkan bahwa iklan harus fleksibel dan adaptif terhadap berbagai kanal dan media untuk memaksimalkan efeknya.

Dalam konteks iklan sebagai propaganda, pergeseran utama terlihat pada bagaimana brand dan agensi harus menyelaraskan ide kreatif dengan kesiapan brand untuk berinovasi dan mengambil risiko.

Terobosan revolusioner ini hanya akan terlaksana, jika brand tersebut inklusif dan mendukung ide-ide tersebut.

Defri juga membahas fenomena viralitas yang kerap menjadi tolak ukur kesuksesan.

Ia mengingatkan bahwa viralitas memang penting untuk mencapai awareness (kesadaran publik), tetapi tidak selalu berbanding lurus dengan hasil penjualan.

“Viralitas sebuah iklan memang menjadi tolok ukur yang penting untuk awareness, tetapi kami selalu tegaskan bahwa viral tidak selalu menjamin keberhasilan dalam penjualan,” tegasnya.

Sebagai contoh, penggunaan jingle atau sound bite di iklan menjadi satu cara efektif untuk masuk ke dalam ingatan konsumen secara subliminal.

Strategi ini masih relevan dan bisa dikombinasikan dengan program iklan yang dipersonalisasi berdasarkan lokasi atau demografi melalui teknologi programatik.

Oleh karena itu, iklan tetap menjadi alat komunikasi yang sangat penting dalam membangun citra brand dan mempengaruhi perilaku konsumen secara positif, tanpa harus memuat unsur kebencian atau manipulasi negatif.

Kreativitas iklan bukan hanya soal lucu atau menarik, tetapi bagaimana bisa berkomunikasi efektif untuk mencapai tujuan.

Iklan juga harus “menyentuh sisi manusia” dan memahami perilaku orang agar dapat memilih waktu dan cara yang tepat dalam menyampaikan pesan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#media massa #digital #iklan #brand