Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Jurus Jitu Ala Financial Educator: Prioritaskan Dana Darurat dengan Pindah ke Rekening Terpisah

Erlina Alfira Qurrotu Aini • Selasa, 9 Desember 2025 | 04:10 WIB
Ilustrasi pengelolaan keuangan untuk dana darurat dan tabungan.
Ilustrasi pengelolaan keuangan untuk dana darurat dan tabungan.

RADARTUBAN – Perbincangan mengenai pengelolaan keuangan keluarga sering kali memunculkan pertanyaan klasik, seperti “mana yang harus didahulukan, menabung atau menyiapkan dana darurat?”

Melalui podcast #momsCorner 74 di kanal YouTube Nikita Willy Official, Annisa Steviani, seorang Financial Educator dan Content Creator, memaparkan pandangannya mengenai hal tersebut serta membahas tentang mengelola keuangan dalam keluarga.

Annisa menegaskan bahwa dana darurat adalah pondasi keuangan yang harus dibangun pertama, bahkan sebelum tabungan biasa, karena melindungi dari risiko tak terduga seperti kehilangan barang berharga atau biaya mendadak.

Menurutnya, yang juga merupakan Certified Financial Planner, pendekatan ini didasari oleh realita bahwa hidup penuh ketidakpastian.

Dengan memiliki cadangan dana ini, stabilitas keuangan keluarga tetap terjaga, meskipun dihadapkan pada keterbatasan penghasilan.

Pendekatan ini menekankan pengelolaan uang yang realistis, di mana selisih antara penghasilan dan pengeluaran dialokasikan terlebih dahulu untuk dana darurat, bukan langsung ke tabungan umum.

"Sebenarnya untung aku punya dana darurat sehingga kena musibah pun hidup bisa berjalan kayak biasa gitu," ujar Annisa, menekankan pentingnya ketenangan finansial.

Annisa juga memberikan panduan mengenai jumlah ideal dana darurat. Untuk individu yang masih lajang, disarankan dana tersebut mencakup 3 kali pengeluaran bulanan.

Sementara untuk keluarga, angkanya jauh lebih besar, yakni antara 9 hingga 12 kali pengeluaran bulanan.

Besaran ini dirancang untuk memastikan kelangsungan hidup keluarga selama rentang waktu tersebut, bahkan jika sumber pendapatan utama terhenti.

“Dana darurat yang lebih utama karena kalau tabungan rutin itu rentan terhadap pengeluaran impulsif atau tip berlebih yang membuat uang hanya numpang lewat begitu saja” ungkapnya.

Sementara itu, dana darurat didesain dengan tujuan tunggal, yaitu hanya untuk kondisi darurat sejati.

Jika uang yang seharusnya menjadi dana darurat tercampur di tabungan biasa, disiplin dalam mengalokasikan dananya akan mudah goyah.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencatat secara rinci pengeluaran selama satu bulan untuk menentukan besaran patokan yang akurat.

Setelah itu, praktikkan disiplin keuangan yang ketat, seperti:

1. Sisihkan di Awal: Begitu gaji masuk, segera alokasikan dana untuk kebutuhan rutin, tunjangan keluarga dan dana darurat.

2. Transfer Otomatis: Cara paling efektif adalah dengan menggunakan transfer otomatis ke rekening yang terpisah dari rekening transaksi harian.

3. Beri Nama Khusus: Seperti “dana krisis” atau “dana darurat”. Penamaan ini membantu membangun mentalitas bahwa dana tersebut tidak boleh disentuh untuk kebutuhan sehari-hari atau liburan.

4. Menjadi yang Utama: Prioritaskan pengisian dana darurat sebelum memikirkan pembelian aset besar seperti rumah, apalagi investasi.

Dana darurat yang kuat memungkinkan keluarga untuk menikmati hidup tanpa beban kekhawatiran berlebih, dengan tetap menabung secara bertahap untuk tujuan jangka panjang seperti pendidikan anak dan pensiun. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#mengelola keuangan #menabung #annisa steviani #dana darurat #financial educator