RADARTUBAN – Raditya Dika membuka perjalanan hidup dan filosofi hidupnya secara blak-blakan dalam wawancara panjang di kanal YouTube Makna Talks episode “Pod. 326 Raditya Dika TALKS ABOUT PIONEERING VIRALITY”.
Dalam perbincangan itu, penulis, komedian, sekaligus sutradara ini mengisahkan titik awal karier, prinsip “bodo amat” yang ia anut, hingga bagaimana memasuki usia 40 mengubah cara pandangnya terhadap hidup.
Awal Karier: Dari Blog ke Fenomena Nasional
Radit bercerita bahwa segalanya dimulai dari blog yang ia tulis saat masih kuliah.
Tanpa ambisi khusus, tulisan-tulisan ringan itu justru bertransformasi menjadi naskah Kambing Jantan.
“Saya datang ke 10 penerbit, yang nerima cuma satu. Dan naskahnya diterbitkan tanpa diedit,” ungkapnya. Editor sengaja mempertahankan gaya blog yang dinilai segar dan jujur.
Keputusan itu terbukti tepat. Kambing Jantan langsung laris dan membuatnya kebanjiran email pembaca.
Ia menyebut momen tersebut sebagai “viral”-nya versi awal, sebelum istilah itu terkenal seperti sekarang.
Pada usia 21 tahun, ia menerima royalti pertama sebesar Rp 22 juta—momen yang memberinya keyakinan bahwa tulisannya punya tempat di hati pembaca.
Dari Buku hingga Masuk Pelajaran Sekolah
Kesuksesan berlanjut. Buku ketiganya, Radikus Makan Kakus, bahkan dijuluki “virus membaca untuk anak muda”.
Namanya kemudian dimasukkan dalam buku pelajaran sekolah, langkah yang memantik kritik dari berbagai kalangan.
Namun Radit mengaku tak ambil pusing. “Saya lebih nyaman disebut penulis ganteng,” ujarnya santai sambil bercanda.
Filosofi ‘Bodo Amat’ dan Seleksi Kritik
Semakin dewasa, Radit mengaku semakin menyederhanakan pola pikir. Ia memilih fokus pada hal-hal yang bisa ia kendalikan saja.
“Kalau ada yang hina keluarga saya atau maki-maki di internet, itu opini mereka. Nggak semua kebenaran harus sama dengan punya kita,” ucapnya.
Ia hanya menaruh perhatian pada kritik yang benar-benar relevan. Seperti ketika ada penonton yang menegur kebiasaannya memotong pembicaraan narasumber dalam podcast.
“Kalau kritiknya masuk akal, saya pelajari. Kalau nggak, ya saya lepas,” tegasnya.
Komedi sebagai Ruang Paling Jujur
Raditya menilai komedi hanya bekerja ketika ia tampil jujur. Baginya, panggung stand up comedy bukan sekadar hiburan, tetapi tempat terapi.
“Komedi cuma lucu kalau lu jujur. Kalau bohong, panggung akan nolak lu,” ujarnya.
Ia mengaku bisa menertawakan keresahan yang sulit diungkapkan secara langsung ketika berada di atas panggung—ruang yang menurutnya paling jujur dalam hidupnya.
Memasuki Usia 40: Tubuh Berubah, Cara Hidup Berubah
Kini menginjak usia 40, Raditya merasakan perubahan besar pada tubuh dan gaya hidupnya.
“Mata sudah nggak bisa fokus dekat, massa otot turun. Saya gabung forum 40+ buat nerima perubahan ini,” jelasnya.
Usia ini juga membuatnya lebih banyak berpikir soal masa depan. Sebagai penulis, ia sadar tidak ada jenjang karier yang jelas.
“Nggak ada jabatan direktur penulis. Jadi masa depan harus saya rencanakan sendiri,” katanya.
Tren Minimalisme: Lepas Koleksi Jam Mewah
Di fase hidupnya sekarang, Raditya memilih gaya hidup yang lebih minimalis. Ia menjual semua koleksi jam tangan mewah, termasuk Rolex Day-Date yang kini dimiliki YouTuber Jonathan Liandi.
“Uang harusnya bikin memori, bukan cuma memenuhi impuls. Barang yang nggak punya cerita, saya lepas,” ujarnya.
Ketakutan Terbesar: Tidak Siap Menghadapi Masa Depan
Menjelang akhir wawancara, Radit mengungkap ketakutan terbesarnya.
“Saya paling takut kalau saya nggak mempersiapkan sesuatu, lalu akhirnya rugi di masa depan,” ujarnya jujur.
Ketakutan inilah yang membuatnya merancang hidup dengan detail, menimbang langkah-langkah jauh ke depan, dan membangun fondasi yang kuat untuk masa depannya.
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni