RADARTUBAN - Perbedaan pandangan dan pengelolaan uang, alih-alih isu perselingkuhan, menjadi salah satu pemicu utama keretakan dan tingginya angka perceraian di Indonesia, terutama setelah pasangan memasuki usia pernikahan yang matang.
Hal ini diungkapkan oleh pakar perencanaan keuangan, Prita Ghozie dan dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ, dalam sebuah podcast yang tayang di kanal YouTube Ruang Tunggu pada Rabu (3/12).
Menurut mereka, masalah ini terjadi karena banyak pasangan baru menyadari adanya perbedaan mendasar dalam kepribadian uang mereka setelah bertahun-tahun hidup bersama, seringkali saat memasuki fase purna kerja dan keuangan mulai berkurang.
Setiap individu memiliki salah satu dari empat tipe kepribadian uang (money personality) utama yang sangat memengaruhi keputusan finansial: Money Avoiders (cuek terhadap uang), Money Vigilance (pencemas dan penabung kompulsif), Money Status (mementingkan pengeluaran untuk menunjukkan status), dan Money Focus (melihat uang sebagai sumber energi dan bersemangat mencari penghasilan).
Mengenali perbedaan karakter ini adalah kunci untuk menciptakan kesehatan finansial dan keharmonisan hubungan.
Perbedaan tajam antara tipe-tipe ini seringkali menimbulkan masalah besar dalam rumah tangga. Pakar perencanaan keuangan, Prita Ghozie, menekankan pentingnya diskusi karakter uang sejak dini.
"Daripada kita baru ketahuan di usia sudah 50-an lebih di mana itu kan agak sulit ya untuk beradaptasi, lebih baik kita ngertinya mulai dari sekarang," ujarnya.
Di samping karakter bawaan, perilaku uang juga sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil. Seseorang yang tumbuh dalam keluarga yang menganggap uang tabu cenderung menjadi Money Avoiders.
Di sisi lain, fenomena Money Hero, di mana seseorang merasa harus menjadi pahlawan keuangan keluarga, sering dialami oleh tipe Money Status.
Psikiater dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ, menambahkan bahwa masalah yang muncul seringkali bukan murni tentang ketiadaan uang, melainkan cara pasangan berantem ketika membahas uang.
"Yang jadi masalah tuh bukan enggak ada uang, tapi cara berantemnya," jelasnya.
Untuk mencegah konflik dan memastikan keuangan rumah tangga tetap sehat dan kuat, pentingnya budgeting dan mengenal indikator finansial yang baku, terlepas dari apa pun kepribadian uangnya.
Indikator Keuangan Kuat meliputi: memiliki cash buffer minimal 12 kali pengeluaran bulanan rutin; aset investasi minimal 50% dari total aset; dan rasio utang yang rendah.
Pakar keuangan juga menyoroti penggunaan self-reward atau healing sebagai alasan untuk pengeluaran berlebihan.
"Jangan berlindung di balik healing dan self reward. Indikator keuangannya gampang. Kalau misalnya ngambil dari gaji, berarti maksimal 20% karena dia masuknya di playing," tegas Prita Ghozie.
Kesimpulannya, alih-alih berfokus pada jumlah gaji, pasangan disarankan untuk berinvestasi waktu dalam memahami peta kepribadian uang masing-masing agar dapat mencapai titik keseimbangan antara hasrat pribadi dan kesehatan finansial bersama. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni