RADARTUBAN - Dalam pusaran media sosial yang serba cepat, tekanan untuk tampil sempurna dan menghindari kritik sering kali merenggut keberanian seseorang untuk menjadi diri sendiri.
Fenomena ini disoroti tajam oleh pengamat sepak bola kontroversial, Coach Justinus Lhaksana (Coach Justin), saat berbincang dalam podcast KPODS yang tayang di kanal YouTube KaisarTV pada Jumat (5/12).
Ia membagikan filosofi hidupnya yang berlandaskan pengalaman, menekankan pentingnya kejujuran, pengendalian ego, dan kemampuan bertahan hidup (surviving skills) sebagai kunci mentalitas yang kuat di tengah kemudahan teknologi.
Bukan tanpa alasan Coach Justin sering bersuara blak-blakan. Ia mengungkapkan bahwa karakter yang kuat tidak bisa didapat dari pelajaran teori, melainkan dibentuk oleh pengalaman dan keberanian mengambil risiko. Baginya, membuat kesalahan adalah kunci utama pertumbuhan.
"Karakter itu dibentuk karena pengalaman. Pengalaman itu kamu dapatkan kalau kamu berani bikin kesalahan," ujarnya.
Dia menekankan bahwa kesalahan besar dalam hidupnya justru menjadi pelajaran berharga yang membentuk mentalitasnya.
Ia menambahkan, kunci menghadapi kritik tajam atau haters di internet adalah kemampuan untuk mengontrol ego dan menolak baper (terlalu perasa).
Menurutnya, orang-orang yang terlalu sibuk mengkritik di media sosial adalah mereka yang memiliki waktu luang dan ego yang tinggi.
"Justru gua bilang, kalau lu sibuk dengan hal-hal yang lain, you don't even have time untuk komen. Kalau lu banyak komen, dalam artian lu enggak ada kerjaan," ucapnya tajam.
Ia bahkan menyarankan agar para pengkritik fokus bekerja keras, sebagai perumpamaan untuk mengalihkan energi negatif menjadi produktif.
Selain masalah mental, Coach Justin juga menyoroti bahaya kemajuan teknologi yang memanjakan generasi muda hingga melupakan keterampilan dasar bertahan hidup.
Menurutnya, terlalu bergantung pada gawai dan aplikasi digital membuat banyak orang kehilangan kemampuan untuk menyelesaikan masalah dasar.
"Dulu zaman kita enggak ada handphone apa, nyasar. Sekarang gua dari Kuningan ke sini, wah lewat jalan-jalan kecil. Kalau enggak ada Google Map, mati juga gua," katanya sambil tertawa.
Ia berpendapat bahwa kemudahan yang ditawarkan teknologi seharusnya hanya dijadikan alat bantu (tools), bukan sandaran utama dalam hidup.
Ia khawatir generasi muda saat ini terlalu mengandalkan teknologi dan melupakan basic needs, surviving skill itu mereka lupa, yang dapat melemahkan daya juang mereka.
Filosofi hidup yang ia pegang teguh adalah keyakinan pada karma. Selama seseorang tidak berbuat jahat dan terus berusaha membantu orang lain, ia percaya hal baik akan datang, terlepas dari segala cancel culture atau cemoohan yang dialaminya.
Hal ini membuktikan bahwa otentisitas dan integritas diri lebih berharga daripada upaya sia-sia untuk menyenangkan semua pihak. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni