RADARTUBAN – Konsultan pernikahan senior Rani Anggraeni menegaskan bahwa cinta bukanlah fondasi utama dalam membangun pernikahan yang sehat dan bertahan lama.
Hal tersebut cia sampaikan saat menjadi narasumber dalam podcast Makna Talks yang tayang di kanal YouTube mereka.
Rani mengatakan, banyak pasangan berani menikah hanya bermodalkan perasaan cinta, tanpa memahami batas dan tanggung jawab di baliknya.
Padahal, menurutnya, cinta manusia bersifat terbatas dan tidak bisa dijadikan satu-satunya sandaran dalam hubungan jangka panjang.
“Cinta manusia itu sangat terbatas, ada limitnya, bahkan ada expiration date-nya, seperti makanan,” ujarnya dengan nada lugas.
Dia mengungkapkan, selama lebih dari 43 tahun menjalani pernikahan dan puluhan tahun mendampingi pasangan dari berbagai latar belakang.
Dia melihat banyak rumah tangga runtuh bukan karena kurang cinta, melainkan karena rapuhnya nilai hidup yang dimiliki pasangan.
Rani menegaskan bahwa komunikasi sering disalahpahami sebagai modal utama pernikahan. Menurutnya, komunikasi hanyalah alat, bukan fondasi. “Komunikasi itu tools, bukan modal utama,” katanya.
Dia kemudian menjelaskan bahwa pernikahan seharusnya dibangun di atas sepuluh nilai fundamental yang disepakati bersama.
Beberapa nilai utama yang ia sebutkan antara lain toleransi, kejujuran (honesty), kerendahan hati (humility), kerja sama (cooperation), tanggung jawab (responsibility), serta kesetaraan (equality). Tanpa nilai-nilai tersebut, kata Rani, konflik akan terus berulang meskipun pasangan merasa sudah berkomunikasi dengan baik.
Dalam kesempatan itu, Rani juga menyoroti tantangan terbesar dalam pernikahan.
Dia menyebut bahwa menjaga kehangatan dan intimasi jauh lebih sulit dibanding menghadapi persoalan ekonomi.
“Banyak pasangan bisa bertahan dalam kondisi finansial sulit, tapi tidak semua mampu menjaga kedekatan emosional,” ungkapnya.
Lebih jauh, Rani mengaitkan persoalan pernikahan dengan trauma masa lalu yang sering kali tidak disadari.
Dia bercerita bahwa ketertarikannya pada dunia psikologi bermula sejak kecil, ketika ia kerap mendengar pertengkaran orang tuanya.
Pengalaman tersebut, katanya, membuka kesadarannya bahwa banyak orang menikah bukan karena kesiapan mental dan emosional, melainkan karena dorongan eksternal.
“Banyak yang menikah karena ingin cepat keluar dari rumah, bukan karena sudah siap,” ujarnya.
Menurut Rani, proses mempersiapkan pernikahan harus mencakup upaya penyembuhan trauma dan pengenalan diri secara mendalam.
Dia menegaskan bahwa kesadaran diri (self-awareness) adalah proses seumur hidup yang berlangsung lapis demi lapis.
Dia juga mengungkapkan bahwa secara psikologis, setiap manusia memiliki lima kebutuhan dasar yang sama, yakni merasa dicintai, dihargai, berarti, aman, dan dipahami.
“Kalau kebutuhan ini tidak terpenuhi sejak kecil, orang akan mencarinya dalam pernikahan dengan cara yang keliru,” katanya.
Rani turut mengingatkan bahwa anak tidak memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan konflik pernikahan orang tuanya.
Dia mengutip pesan dosennya yang sangat membekas dalam hidupnya.
“It’s their problem, Rani. It’s not your problem,” ungkapnya menirukan kalimat tersebut.
Dalam konteks pengasuhan, Rani menyampaikan pandangan reflektif dengan menyebut anak sebagai guru kehidupan.
Dia mengatakan bahwa anak-anaknya justru membantunya menyadari perannya sebagai ibu dan sebagai perempuan.
“Tidak ada sekolah formal untuk menjadi orang tua, jadi anak-anaklah yang mengajari kita,” katanya.
Menutup perbincangan, Rani menyampaikan pandangan tegas mengenai pernikahan.
Dia menekankan bahwa pernikahan bukan kewajiban semua orang.
“Marriage is not for everyone,” tegasnya.
Pernikahan, menurutnya, adalah pilihan hidup, dan ketika seseorang memilihnya, maka tanggung jawab penuh harus siap diemban. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama