RADARTUBAN – Ucapan yang terdengar sederhana dari mertua ternyata bisa meninggalkan dampak serius bagi kesehatan mental menantu.
Tanpa disadari, beberapa kalimat yang kerap dianggap wajar justru dapat memicu stres berkepanjangan, rasa tidak dihargai, hingga depresi.
Psikolog keluarga asal Kanada, Tracy Dalgleish, menjelaskan bahwa komunikasi yang mengabaikan batas emosional sering menjadi akar konflik dalam keluarga muda.
Ungkapan tertentu dapat membentuk rasa bersalah, tekanan psikologis, hingga isolasi emosional, terutama bagi menantu yang tengah beradaptasi dengan peran baru dalam pernikahan.
Berikut empat kalimat yang dinilai paling sering memicu gangguan mental pada menantu, berdasarkan analisis pakar psikologi.
“Saya Cuma Ingin Membantu”
Kalimat ini sering diucapkan saat mertua memberi nasihat yang tidak diminta atau terlibat terlalu jauh dalam urusan rumah tangga anak dan menantu.
Meski terdengar bernada positif, ungkapan ini kerap digunakan untuk membenarkan pelanggaran batas pribadi.
Akibatnya, perasaan menantu menjadi terabaikan, bahkan dianggap terlalu sensitif jika merasa tidak nyaman.
Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memicu tekanan emosional karena menantu merasa tidak memiliki ruang untuk bersuara.
“Di Keluarga Kami, Dari Dulu Selalu Seperti Ini”
Ungkapan ini mencerminkan sikap kaku dan menutup ruang dialog. Mertua seakan memaksakan tradisi keluarga tanpa mempertimbangkan latar belakang, nilai, atau kondisi menantu.
Situasi ini sering terjadi pada masa awal pernikahan atau setelah kelahiran anak.
Menantu bisa merasa terasing, tidak diterima sepenuhnya, dan terpaksa mengikuti aturan yang tidak disepakati bersama.
“Kamu Merebut Anak Saya”
Kalimat ini tergolong paling menyakitkan secara emosional. Menantu ditempatkan sebagai pihak yang “mengambil” peran dalam kehidupan anak orang tua, seolah-olah pernikahan adalah bentuk kehilangan.
Pernyataan tersebut mengabaikan fakta bahwa anak telah dewasa dan berhak membangun kehidupan sendiri.
Dampaknya, menantu kerap diliputi rasa bersalah yang tidak beralasan dan tekanan untuk selalu menyenangkan mertua.
Baca Juga: GRR Goes to School: Psikolog Ingatkan Remaja Rentan Alami Gangguan Mental di Fase Storm
“Ini Bukan Masalah Besar, Kamu Terlalu Lebay”
Kalimat ini meniadakan validitas emosi. Saat menantu menghadapi tantangan pengasuhan anak, kelelahan mental, atau konflik rumah tangga, respons semacam ini justru memperparah keadaan.
Meremehkan perasaan membuat menantu enggan terbuka dan membangun tembok emosional dalam keluarga.
Jika terus berulang, kondisi ini berpotensi memicu stres kronis hingga depresi.
Dampak Psikologis dan Cara Mengatasinya
Para ahli menilai, paparan kalimat-kalimat tersebut secara terus-menerus dapat berdampak serius pada kesehatan mental, mulai dari kecemasan berlebih, depresi, hingga terganggunya hubungan pernikahan.
Psikolog menyarankan adanya batasan yang jelas, komunikasi terbuka antara pasangan, serta keterlibatan pasangan dalam melindungi kesehatan mental masing-masing.
Dialog yang sehat dan saling menghormati menjadi kunci untuk mencegah konflik berkepanjangan dalam keluarga besar.
Menjaga tutur kata bukan sekadar soal sopan santun, tetapi juga investasi emosional untuk keharmonisan keluarga jangka panjang. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni