RADARTUBAN – Bekerja di bawah kepemimpinan atasan yang merasa dirinya paling pintar sering kali menjadi ujian mental dan profesional bagi banyak karyawan.
Sosok pemimpin seperti ini umumnya tampil penuh percaya diri, karismatik, dan terlihat sangat visioner di permukaan.
Mereka pandai berbicara, tegas dalam mengambil keputusan, dan kerap menampilkan diri sebagai figur yang selalu memiliki jawaban atas setiap persoalan.
Namun di balik citra tersebut, tersimpan sisi lain yang tidak jarang menimbulkan persoalan serius di lingkungan kerja.
Pemimpin yang merasa paling pintar cenderung memiliki keyakinan kuat bahwa pendapatnya adalah yang paling benar.
Akibatnya, siapa pun yang tidak sejalan dengan pemikirannya sering dianggap tidak kompeten, tidak realistis, atau bahkan dinilai sebagai penghambat kemajuan tim.
Dalam praktiknya, atasan dengan karakter seperti ini kerap mengabaikan masukan bawahan secara sepihak.
Meskipun terkadang mereka terlihat membuka ruang diskusi atau meminta pendapat staf, keputusan akhir hampir selalu mengikuti kehendak pribadi.
Dukungan terhadap ide karyawan sering kali hanya bersifat formalitas, sementara arah kebijakan tetap dikendalikan sepenuhnya oleh sang pemimpin.
Jika dibiarkan berlarut-larut, pola kepemimpinan seperti ini dapat memunculkan dampak negatif yang serius.
Anggota tim cenderung memilih diam, menarik diri dari diskusi, atau bahkan menyembunyikan informasi penting karena merasa suaranya tidak akan didengar.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut menghambat inovasi, menutup peluang perbaikan, membiarkan kesalahan sistemik tetap terjadi, bahkan berpotensi memicu praktik kerja yang tidak etis.
Menanggapi fenomena tersebut, Susan Lucia Annunzio, CEO Center for High Performance sekaligus profesor manajemen di University of Chicago Booth School of Business, membagikan sejumlah panduan praktis bagi karyawan yang harus berhadapan dengan atasan semacam ini.
Dalam catatannya yang dikutip dari The Wall Street Journal, Annunzio menegaskan bahwa tidak ada strategi yang benar-benar menjamin keberhasilan.
Namun, langkah-langkah berikut dapat membantu karyawan bertahan, menjaga profesionalisme, dan tetap berkontribusi secara efektif.
1. Hindari Perebutan Kekuasaan
Annunzio menyarankan agar karyawan tidak terjebak dalam adu argumen yang bertujuan membuktikan siapa yang paling benar.
Dalam struktur hierarki, atasan hampir selalu berada di posisi yang lebih kuat.
Bahkan ketika ide Anda ditolak mentah-mentah, bukan tidak mungkin atasan tersebut menyerap gagasan itu dan menyampaikannya kembali di lain waktu sebagai ide miliknya sendiri.
Dalam situasi seperti ini, membiarkan atasan merasa “memiliki” ide tersebut sering kali jauh lebih efektif daripada memperdebatkan asal-usulnya.
2. Gunakan Teknik Bertanya yang Cerdas
Alih-alih menyanggah secara langsung, mengajukan pertanyaan strategis dapat menjadi pendekatan yang lebih aman dan efektif.
Misalnya, dengan bertanya tentang risiko jangka panjang, dampak terhadap target pendapatan, atau pengaruh keputusan terhadap moral tim.
Pertanyaan semacam ini mendorong atasan untuk meninjau kembali keputusannya sendiri tanpa merasa wibawanya terancam, sehingga perubahan arah bisa terjadi secara alami.
3. Bangun Aliansi dengan Rekan Kerja
Menghadapi atasan dominan seorang diri tentu lebih berat dibandingkan secara kolektif.
Annunzio menyarankan agar karyawan berkoordinasi dengan rekan kerja lain yang memiliki pengaruh atau kesadaran serupa terhadap dampak negatif gaya kepemimpinan tersebut.
Suara kolektif yang terorganisasi akan memberikan bobot dan kredibilitas lebih besar, sehingga masukan tim memiliki peluang lebih besar untuk didengar.
4. Lindungi Diri Sendiri
Jika seluruh pendekatan tersebut tidak membuahkan hasil, melindungi kesejahteraan diri menjadi prioritas utama. Penolakan berulang terhadap ide-ide yang rasional dapat merusak kepercayaan diri dan kesehatan mental.
Oleh karena itu, menjaga pola hidup sehat, tidur cukup, berolahraga, atau melakukan meditasi menjadi langkah penting.
Dalam kondisi yang sudah tidak kondusif, bekerja sesuai porsi dan mulai mempersiapkan langkah karier berikutnya secara tenang adalah pilihan yang realistis.
Pada akhirnya, pengalaman bekerja dengan atasan yang merasa paling pintar dapat menjadi pelajaran berharga tentang kepemimpinan.
Dari situ, seseorang dapat belajar mengenai apa yang seharusnya tidak dilakukan ketika kelak berada di posisi otoritas.
Rasa tidak dihargai yang pernah dialami justru bisa menjadi bekal untuk menjadi pemimpin yang lebih empatik, terbuka, dan menghargai kontribusi orang lain.
Perlu diingat, meskipun seorang atasan memiliki kekuasaan secara struktural, tidak ada satu pun individu yang memiliki semua jawaban benar.
Pemimpin yang merasa mengetahui segalanya sejatinya sedang terjebak dalam kesalahan terbesar: menutup diri dari kebijaksanaan kolektif. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni