Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Waspada, Ini 5 Red Flag Pengelolaan Keuangan yang Bisa Merusak Pernikahan

M Robit Bilhaq • Rabu, 24 Desember 2025 | 16:58 WIB
Ilustrasi pasangan muda.
Ilustrasi pasangan muda.

RADARTUBAN – Yang menjadi akar permasalahan yang tidak terlihat dalam kehidupan pernikahan sering kali disebabkan oleh persoalan ekonomi.

Isunya bukan hanya terbatas pada nominal pendapatan yang didapat, tetapi lebih mendalam pada perilaku individu, keterbukaan antarpihak, serta mekanisme pengambilan kebijakan keuangan secara kolektif.

Tanpa disadari banyak orang, sebenarnya manajemen keuangan yang buruk dapat menjadi indikasi awal bahwa sebuah hubungan sedang mengalami keretakan.

Banyak rujukan mengenai hubungan dan manajemen ekonomi menyatakan bahwa mengidentifikasi tanda-tanda bahaya sejak awal sangat krusial untuk mencegah perselisihan yang lebih hebat di masa depan.

Dibawah ini adalah lima tanda peringatan (red flag) dalam pengelolaan ekonomi keluarga yang harus diperhatikan dengan saksama.

1. Gaya Konsumsi yang Melampaui Batas Kendali

Yang menjadi tanda bahaya paling sering dijumpai adalah perilaku konsumtif yang tidak memiliki landasan rencana yang matang.

Persoalannya bukan sekadar kesulitan uang yang terjadi sesekali.

Melainkan sebuah siklus yang terus terjadi secara konsisten, tanda-tandanya meliputi saldo tabungan yang cepat habis, penggunaan kartu kredit yang selalu mencapai batas maksimal, hingga ketidakmampuan membayar tagihan wajib tepat waktu.

Jika kebiasaan yang kurang baik tersebut tidak diperbaiki, beban ekonomi akan menciptakan tekanan psikologis yang perlahan merusak kualitas komunikasi dan kenyamanan dalam rumah tangga.

2. Enggan Berdiskusi Mengenai Masalah Ekonomi

Memang sebagian orang sering kali terasa tidak nyaman saat mereka membicarakan persoalan uang.

Khususnya bagi pasangan yang baru menikah, namun, apabila seiring berjalannya waktu salah satu atau kedua pihak terus-menerus mengelak untuk berdiskusi soal keuangan.

Hal ini harus diwaspadai sebagai masalah serius, berbagai aspek vital dalam keluarga, seperti pemilihan hunian, strategi pengembangan karier, hingga dana sekolah anak, sangat bertumpu pada kesiapan dana.

Tanpa adanya transparansi mengenai utang, cara berbelanja, serta visi ekonomi masa depan, kemungkinan besar pasangan tersebut akan menghadapi benturan akibat perbedaan ekspektasi.

3. Tidak ada Jadwal Evaluasi Finansial

Pernikahan yang harmonis biasanya memiliki waktu khusus untuk meninjau kembali berbagai hal.

Termasuk kondisi keuangan didalam keluarganya.

Jika pasangan cenderung menangguhkan dialog tersebut atau justru menunjukkan sikap menyerang ketika isu uang diangkat.

Hal tersebut menandakan adanya isu terpendam yang belum tuntas.

Padahal, dengan menyisihkan waktu khusus untuk membedah masalah keuangan hal tersebut dapat menjadi solusi pencegahan agar masalah kecil tidak meledak menjadi pertengkaran hebat.

Sesi ini juga menjadi sarana untuk membangun strategi bersama, mulai dari menyisihkan tabungan, membedah alokasi rutin bulanan, hingga menyusun rencana rekreasi.

4. Menyembunyikan Transaksi Keuangan

Salah satu tanda bahaya yang sangat krusial berikutnya adalah adanya aktivitas belanja yang dirahasiakan.

Seperti mencakup keputusan membeli barang bernilai tinggi tanpa memberi tahu pasangan, sengaja membuang struk belanja agar tidak terlacak, atau menutupi besaran utang yang dimiliki.

Inti masalah di sini bukan sekadar tentang nominal uang, namun tentang pudarnya rasa saling percaya.

Jika kebiasaan tidak jujur ini dibiarkan, bukan hanya rencana keuangan yang akan berantakan, tetapi juga akan tercipta tembok pemisah secara emosional di antara suami dan istri.

5. Utang Pasangan yang Mengancam Dana Cadangan

Memberikan dukungan saat pasangan menghadapi kendala ekonomi adalah termasuk sikap yang sangat mulia.

Tetapi, kondisi tersebut menjadi pertanda bahaya jika bantuan tersebut mulai menguras tabungan yang seharusnya diperuntukkan bagi kepentingan bersama.

Seperti ikatan dalam bentuk utang kolektif seperti menjamin pinjaman pihak lain, memakai kartu kredit secara bergantian, atau mengajukan pinjaman atas nama berdua membawa risiko yang sangat besar.

Keuangan pada dasarnya bukan hanya tentang tumpukan harta saja, tetapi adalah manifestasi dari nilai moral, kebiasaan harian, dan skala prioritas hidup seseorang.

Adanya ketidaksehatan dalam mengatur ekonomi keluarga sering kali mencerminkan adanya perbedaan sudut pandang yang fundamental, pondasi yang membangun perasaan aman dan rasa percaya justru muncul dari kejujuran dan pola komunikasi yang baik.

Di sisi lain, sering kali menjadi alasan utama berakhirnya sebuah ikatan adalah soal uang yang tidak kunjung dicarikan solusinya, baik di usia pernikahan muda ataupun pernikahan yang sudah berlangsung puluhan tahun. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Manajemen Keuangan #kolektif #rumah tangga #keuangan #red flag #kebijakan