RADARTUBAN - Fenomena menonton video dengan suara keras di tempat umum semakin sering ditemui.
Dari angkutan umum, ruang tunggu, hingga warung kopi, suara video yang diputar tanpa earphone sering kali mengganggu orang lain.
Kebiasaan ini seharusnya sudah menjadi aturan dasar yang dipahami, namun masih banyak yang melakukannya, dan biasanya, stereotipnya melekat pada bapak-bapak.
Artikel ini membahas mengapa kebiasaan tersebut menyebalkan, serta pentingnya kesadaran sosial dalam ruang bersama.
Baca Juga: Video Live Streaming Diduga ASN Lecehkan Penyandang Disabilitas, Bikin Geram Warganet
Kebiasaan yang Mengganggu
Bayangkan sedang duduk di bus atau kereta, ingin menikmati perjalanan dengan tenang, tiba-tiba ada orang yang menyalakan video dengan volume keras.
Suara tawa, musik, atau komentar dari video itu langsung memenuhi ruang, memaksa semua orang mendengarkan sesuatu yang tidak mereka pilih.
Kebiasaan ini bukan hanya mengganggu, tetapi juga menunjukkan kurangnya kesadaran sosial.
Baca Juga: Viral Video Ular Piton Raksasa di Banjir Sumatera Terbukti Hoaks Buatan AI
Aturan Dasar yang Harusnya Dipahami
Menonton video di tempat umum sebenarnya bukan masalah. Masalah muncul ketika suara diputar keras tanpa memperhatikan orang lain.
Aturan dasar yang seharusnya sudah dipahami adalah menggunakan earphone atau menurunkan volume.
Ini bentuk penghormatan terhadap ruang bersama. Sayangnya, masih banyak yang mengabaikan hal ini, seolah ruang publik adalah milik pribadi.
Biasanya Dilakukan oleh Bapak-Bapak
Fenomena ini sering dikaitkan dengan bapak-bapak. Entah di warung kopi, angkutan umum, atau ruang tunggu, bapak-bapak sering terlihat menonton video dengan suara keras.
Bisa jadi karena kebiasaan, bisa juga karena kurang terbiasa menggunakan earphone.
Namun, apapun alasannya, kebiasaan ini tetap menyebalkan bagi orang lain.
Baca Juga: Ekonomi Digital Indonesia Melonjak: Menuju $100 Miliar di 2025, Didorong Video Commerce dan AI
Pentingnya Social Calibration
Kebiasaan menonton video dengan suara keras di tempat umum menunjukkan kurangnya social calibration, yakni kemampuan membaca ruang dan menyesuaikan diri dengan konteks.
Ruang publik adalah ruang bersama, di mana kenyamanan orang lain harus diperhatikan.
Dengan social calibration, seseorang akan sadar bahwa menyalakan video keras di ruang publik bukan hanya tidak sopan, tetapi juga merampas kenyamanan orang lain.
Menonton video dengan suara keras di tempat umum adalah kebiasaan yang sebaiknya dihindari.
Aturan dasar seperti menggunakan earphone atau menurunkan volume seharusnya sudah dipahami semua orang.
Ruang publik adalah ruang bersama, dan menjaga kenyamanan bersama adalah bentuk kedewasaan sosial.
Jadi, lain kali ketika ingin menonton video di tempat umum, ingatlah: earphone bukan hanya aksesori, tapi simbol penghormatan terhadap orang lain.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni