RADARTUBAN - Budaya kerja di banyak perusahaan masih menempatkan lembur sebagai simbol loyalitas. Karyawan yang pulang paling akhir sering dianggap paling berdedikasi.
Padahal, anggapan ini adalah bentuk normalisasi yang keliru. Lembur bukanlah tanda kesetiaan, melainkan indikator bahwa sistem kerja belum berjalan sehat.
Lembur dan Persepsi Loyalitas
Di banyak kantor, karyawan yang sering lembur dipuji sebagai pekerja keras. Mereka dianggap rela berkorban demi perusahaan.
Namun, persepsi ini menyesatkan. Lembur seharusnya bukan ukuran loyalitas, melainkan tanda bahwa ada beban kerja yang tidak seimbang.
Loyalitas sejati bukan tentang mengorbankan waktu pribadi, tetapi tentang bekerja efektif dan memberi kontribusi nyata dalam jam kerja yang wajar.
Normalisasi yang Keliru
Ketika lembur dianggap hal biasa, bahkan diagungkan, maka terjadi normalisasi yang keliru. Karyawan merasa terpaksa mengikuti budaya lembur agar tidak dicap kurang berdedikasi.
Akibatnya, batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi kabur. Kesehatan mental terganggu, produktivitas jangka panjang menurun, dan kualitas hidup karyawan terabaikan.
Baca Juga: 10 Kapten Paling Legendaris dalam Sejarah Serie A: Ikon Loyalitas dan Kepemimpinan
Dampak pada Karyawan dan Perusahaan
Budaya lembur yang dianggap loyalitas justru merugikan kedua belah pihak. Karyawan kehilangan waktu untuk keluarga, istirahat, dan pengembangan diri.
Perusahaan pun sebenarnya tidak diuntungkan, karena tenaga kerja yang kelelahan tidak bisa memberikan performa terbaik.
Alih-alih meningkatkan produktivitas, lembur yang berlebihan justru menurunkan kualitas kerja.
Loyalitas Sejati
Loyalitas sejati tidak diukur dari berapa lama seseorang duduk di kantor. Loyalitas adalah tentang komitmen terhadap pekerjaan, tanggung jawab, dan integritas.
Karyawan yang loyal adalah mereka yang mampu bekerja efektif, menjaga kualitas, dan tetap sehat secara fisik maupun mental.
Perusahaan yang bijak seharusnya menghargai keseimbangan hidup karyawan, bukan sekadar jam kerja panjang.
Saat lembur dianggap loyalitas, kita sedang menormalisasi budaya kerja yang keliru. Lembur bukan tanda dedikasi, melainkan tanda ketidakseimbangan sistem.
Perusahaan perlu mengubah cara pandang: loyalitas bukan soal jam kerja, tetapi soal kualitas kontribusi. Dengan begitu, dunia kerja bisa lebih sehat, produktif, dan manusiawi.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni