RADARTUBAN – Menjadi pribadi yang mapan secara finansial ternyata tidak hanya ditentukan oleh besarnya penghasilan yang diterima setiap bulan.
Lebih dari itu, kekayaan justru sangat dipengaruhi oleh pola pikir serta kebiasaan dalam mengelola uang sehari-hari.
Banyak orang dengan penghasilan besar tetap kesulitan membangun kekayaan karena masih terjebak pada kebiasaan konsumtif yang tidak disadari.
Seorang akuntan sekaligus penulis buku keuangan ternama, Tom Corley, mengungkap fakta menarik dari hasil penelitiannya selama lebih dari lima tahun.
Baca Juga: Jangan Dianggap Sepele, Ini 10 Kesalahan Finansial yang Diam-diam Menggerus Keuangan
Dalam riset tersebut, Corley mewawancarai ratusan individu dari kalangan kelas atas dengan rata-rata penghasilan tahunan mencapai miliaran rupiah.
Meski memiliki latar belakang profesi dan kehidupan yang berbeda-beda, para responden ini memiliki satu kesamaan utama, yakni disiplin tinggi dalam mengatur pengeluaran.
Menurut Corley, faktor terbesar yang membuat mereka mampu membangun kekayaan bukan semata-mata karena penghasilan besar, melainkan karena keberanian mereka menghentikan kebiasaan membelanjakan uang untuk hal-hal yang tidak memberikan nilai jangka panjang.
Baca Juga: Duo Pendiri Google Larry Page dan Sergey Brin Bayangi Elon Musk, Gemini 3 Dorong Lonjakan Kekayaan
Berikut ini adalah sejumlah kebiasaan dan pengeluaran yang cenderung dihindari oleh orang-orang kaya, dan patut dipertimbangkan untuk dihapus mulai tahun 2026.
1. Makanan Olahan dan Produk Kemasan Berkualitas Rendah
Orang kaya umumnya sangat memperhatikan kesehatan sebagai aset jangka panjang. Mereka menghindari makanan olahan, cepat saji, atau produk kemasan yang mengandung banyak pengawet dan gula berlebih.
Sebagai gantinya, mereka lebih memilih bahan makanan segar, organik, serta sumber pangan berkualitas tinggi.
Tidak jarang mereka berbelanja langsung ke pasar tradisional atau pemasok lokal untuk mendapatkan daging, sayuran, dan buah-buahan dengan mutu terbaik.
2. Produk Murah dengan Kualitas Rendah
Alih-alih mengikuti tren sesaat atau membeli barang murah yang mudah rusak, individu kaya lebih memilih produk berkualitas tinggi dengan desain yang tahan lama.
Baik dalam hal pakaian, furnitur, hingga peralatan rumah tangga, mereka memandang pembelian sebagai investasi jangka panjang.
Meski harga awalnya lebih mahal, barang berkualitas dinilai lebih hemat karena tidak perlu sering diganti.
3. Biaya Perbaikan Besar untuk Barang yang Sudah Usang
Dalam mengelola aset seperti kendaraan atau peralatan rumah tangga, orang kaya cenderung mengambil keputusan rasional.
Jika biaya perbaikan sudah terlalu sering dan mahal, mereka lebih memilih mengganti dengan unit baru.
Mesin cuci, lemari es, hingga atap rumah yang sudah tua dinilai lebih baik diganti demi efisiensi, ketahanan, dan ketenangan pikiran dalam jangka panjang.
4. Mengurus Sendiri Area Terbuka dan Taman Rumah
Berbeda dengan kebanyakan orang yang memilih merawat halaman sendiri, kelompok kaya justru sering menggunakan jasa profesional. Mereka rela membayar tukang kebun atau penata taman karena yang mereka beli sebenarnya adalah waktu.
Waktu yang seharusnya habis untuk memotong rumput atau membersihkan halaman bisa dialihkan untuk beristirahat, membangun relasi, atau mengembangkan usaha.
5. Aktivitas Perjudian dan Lotre
Sikap realistis terhadap peluang membuat orang kaya menjauhi segala bentuk perjudian, termasuk lotre dan judi online.
Mereka memahami bahwa kemungkinan menang sangat kecil dan uang yang dikeluarkan cenderung terbuang sia-sia.
Daripada mengandalkan keberuntungan, mereka lebih memilih mengalokasikan dana untuk investasi yang memiliki perhitungan dan potensi pertumbuhan nyata.
6. Pembelian Impulsif Tanpa Perencanaan
Kemampuan mengendalikan diri menjadi ciri kuat orang-orang sukses secara finansial. Meski terlihat memiliki banyak barang mewah, sebagian besar pembelian dilakukan dengan perencanaan matang.
Mereka menghindari belanja impulsif yang hanya didorong oleh emosi sesaat. Prinsip yang mereka pegang sederhana: jika sebuah barang dibeli tanpa tujuan jelas, besar kemungkinan barang tersebut hanya akan menjadi tumpukan yang tidak berguna.
Dengan memahami dan mulai menghindari kebiasaan-kebiasaan di atas, setiap individu memiliki peluang yang lebih besar untuk membangun kondisi finansial yang sehat.
Tahun 2026 bisa menjadi momentum penting untuk memperbaiki pola pikir, mengendalikan pengeluaran, dan mulai menata masa depan keuangan yang lebih stabil dan berkelanjutan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni