RADARTUBAN – Menangis merupakan cara utama bayi berkomunikasi dengan lingkungannya sejak lahir.
Melalui tangisan, bayi menyampaikan berbagai kebutuhan dasar seperti rasa lapar, tidak nyaman, kelelahan, hingga keinginan untuk mendapatkan rasa aman dari orang tua atau pengasuhnya.
Namun, di tengah praktik pengasuhan modern, muncul perdebatan panjang mengenai apakah bayi sebaiknya segera ditenangkan saat menangis atau justru dibiarkan menangis sejenak untuk melatih kemandirian.
Sebagian orang tua meyakini bahwa membiarkan bayi menangis dalam waktu tertentu dapat membantu anak belajar menenangkan diri sendiri serta membentuk pola tidur yang lebih teratur.
Di sisi lain, kelompok pakar perkembangan anak memperingatkan bahwa pengabaian terhadap tangisan bayi, terutama dalam durasi yang panjang dan berulang, berpotensi membawa dampak serius bagi perkembangan emosional dan neurologis anak.
Salah satu riset yang kerap dijadikan rujukan dilakukan oleh tim peneliti dari University of Warwick. Penelitian tersebut mengamati pola tangisan dan perkembangan bayi sejak lahir hingga usia balita.
Hasilnya menunjukkan bahwa membiarkan bayi menangis hingga akhirnya berhenti sendiri tidak terbukti menimbulkan dampak negatif terhadap tumbuh kembang secara umum, termasuk hubungan emosional antara bayi dan orang tuanya.
Dalam laporan yang dipublikasikan di Journal of Child Psychology and Psychiatry, peneliti menemukan bahwa hingga usia sekitar satu setengah tahun, bayi yang sesekali dibiarkan menangis tidak menunjukkan gangguan perkembangan signifikan.
Bahkan, bayi yang pada usia awal—khususnya di sekitar tiga bulan—lebih sering dibiarkan menangis dalam durasi singkat, justru cenderung memiliki waktu menangis yang lebih singkat saat menginjak usia 18 bulan.
Peneliti menyimpulkan bahwa dalam konteks tertentu, metode ini dapat membantu bayi belajar mengelola emosi dan menumbuhkan kemampuan regulasi diri.
Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya disepakati oleh semua ahli. Penelope Leach, pakar perkembangan anak ternama, menyampaikan kekhawatiran serius terhadap praktik membiarkan bayi menangis tanpa respons.
Dalam bukunya, Leach menekankan bahwa bayi yang dibiarkan mengalami tekanan emosional secara berulang berisiko menghadapi masalah kesehatan mental di kemudian hari.
Menurut Leach, otak bayi berada dalam fase pertumbuhan yang sangat pesat, sehingga paparan stres berkepanjangan—termasuk dari tangisan yang diabaikan—dapat memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol dalam jumlah berlebihan.
Kondisi tersebut, jika terjadi terus-menerus, dikhawatirkan dapat mengganggu perkembangan struktur otak dan menurunkan kapasitas belajar anak di masa depan.
Leach juga menegaskan bahwa bayi belum memiliki kematangan mental untuk memahami konsep kemandirian atau jadwal tidur.
Jika bayi akhirnya berhenti menangis, hal itu bukan berarti ia telah belajar mandiri, melainkan bisa jadi karena kelelahan ekstrem atau perasaan tidak lagi berharap akan mendapat pertolongan.
Dalam jangka panjang, pola ini dikhawatirkan dapat memengaruhi rasa aman dan kepercayaan anak terhadap lingkungannya.
Sementara itu, praktisi gangguan tidur anak asal Amerika Serikat, Anastasia Baker, menawarkan pendekatan yang lebih moderat.
Baker menjelaskan bahwa membiarkan bayi menangis selama beberapa menit dalam kondisi tertentu tidaklah berbahaya, terutama jika bayi telah berusia di atas enam bulan, kebutuhan nutrisinya terpenuhi, serta tidak menunjukkan tanda-tanda gangguan fisik atau medis.
Baker menyarankan agar orang tua tetap memantau bayi dengan saksama dan memberikan respons secara bertahap.
Menurutnya, kebiasaan selalu menimang atau menyusui bayi hingga tertidur dapat membuat anak terlalu bergantung pada bantuan eksternal untuk tidur, yang pada akhirnya menyulitkan pembentukan pola tidur mandiri dan berpotensi mengganggu keseimbangan rutinitas keluarga.
Meski demikian, para ahli sepakat bahwa orang tua harus mampu membedakan tangisan normal dengan tangisan yang mengindikasikan rasa sakit atau kondisi medis tertentu.
Tangisan bayi tidak selalu berarti manja, tetapi sering kali menjadi sinyal penting adanya ketidaknyamanan serius.
Adapun beberapa ciri tangisan bayi yang perlu diwaspadai antara lain:
- Suara tangisan jauh lebih keras atau melengking dari biasanya
- Ekspresi wajah dan gestur tubuh yang menunjukkan nyeri ekstrem
- Tubuh bayi menjadi sangat kaku atau justru sangat lemas
- Menolak menyusu atau kehilangan nafsu makan
- Perubahan drastis pada pola tidur
- Tubuh bayi tampak gemetar
Jika tangisan tersebut disertai gejala lain seperti demam tinggi, muntah berulang, penurunan berat badan, penurunan kesadaran, atau bayi tidak dapat ditenangkan dengan cara apa pun, orang tua sangat dianjurkan untuk segera mencari bantuan medis.
Dengan berbagai pandangan yang ada, para pakar menekankan bahwa tidak ada satu metode pengasuhan yang sepenuhnya cocok untuk semua anak.
Kunci utamanya adalah kepekaan orang tua dalam membaca kebutuhan bayi, menjaga keseimbangan antara respons emosional dan pembelajaran kemandirian, serta selalu mengutamakan keselamatan dan kesehatan anak. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni