Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Jangan Wariskan Mental Miskin, Ini Pola Asuh Orang Tua yang Bisa Menghambat Kesuksesan Anak

M Robit Bilhaq • Sabtu, 3 Januari 2026 | 08:00 WIB

ilustrasi seseorang yang berbeda kasta
ilustrasi seseorang yang berbeda kasta

RADARTUBAN – Cara mendidik anak dan pola pengasuhan yang diterapkan orang tua memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk karakter, kepercayaan diri, serta cara berpikir seorang anak di masa depan.

Sejak usia dini, anak cenderung meniru perilaku, menyerap kebiasaan, dan mempercayai setiap perkataan yang diucapkan oleh orang tua mereka.

Oleh karena itu, setiap kalimat yang dilontarkan, baik disadari maupun tidak, dapat meninggalkan jejak psikologis yang kuat dalam diri anak.

Baca Juga: Berawal dari Pola Asuh, Ini 4 Jenis Attachment Style yang Memengaruhi Hubungan Dewasa Menurut Psikiater Dr Andreas

Dalam keseharian, anak biasanya menganggap ucapan orang tua sebagai sebuah kebenaran mutlak.

Apa yang sering didengar akan tertanam dan perlahan membentuk cara pandang mereka terhadap kehidupan, termasuk tentang uang, kesuksesan, dan peluang.

Inilah sebabnya mengapa orang tua yang berharap anaknya tumbuh menjadi pribadi tangguh dan sukses perlu memiliki kesadaran tinggi dalam menjaga tutur kata serta sikap, khususnya ketika membahas soal keterbatasan ekonomi.

Seorang pakar pola asuh anak dan kesehatan mental, Amy Morin, dalam berbagai karyanya menjelaskan bahwa salah satu kesalahan paling umum dalam pengasuhan adalah tanpa sadar menanamkan pola pikir kekurangan atau yang kerap disebut sebagai mental miskin.

Baca Juga: Anak Zaman Sekarang Lebih Aktif, Apa Pengaruh Pola Asuh Orang Tua?

Mentalitas ini bukan semata soal kondisi finansial, melainkan cara seseorang memandang kemampuan diri, peluang, dan masa depan.

Contoh nyata dari mental miskin yang sering terjadi adalah ketika orang tua secara langsung menyatakan ketidakmampuan finansial dengan kalimat bernada pesimistis, seperti “Kita tidak akan pernah mampu membeli itu” atau “Orang seperti kita tidak mungkin punya hidup seperti mereka.”

Kalimat-kalimat semacam ini, jika terus diulang, dapat membentuk keyakinan dalam diri anak bahwa keterbatasan adalah sesuatu yang permanen dan tidak bisa diubah.

Ketika anak menginginkan sesuatu yang bernilai tinggi, orang tua sebaiknya tidak menekankan bahwa keinginan tersebut mustahil dicapai hanya karena kondisi ekonomi saat ini.

Pendekatan yang lebih sehat adalah menjelaskan bahwa setiap keinginan membutuhkan proses, perencanaan, dan usaha. Dengan begitu, anak belajar bahwa keterbatasan bukanlah akhir, melainkan tantangan yang bisa dihadapi.

Sebagai contoh, alih-alih mengatakan bahwa keluarga tidak akan pernah mampu memiliki rumah yang besar atau hidup yang lebih nyaman, orang tua disarankan untuk mengubah narasi menjadi lebih konstruktif.

Penjelasan dapat diarahkan bahwa memiliki rumah tersebut adalah tujuan jangka panjang, namun saat ini keluarga masih perlu menabung, bekerja lebih keras, atau meningkatkan keterampilan agar penghasilan bisa bertambah di masa depan.

Melalui komunikasi seperti ini, anak tidak hanya memahami realitas ekonomi keluarga, tetapi juga belajar tentang perencanaan, kesabaran, kerja keras, dan pentingnya memiliki tujuan hidup.

Anak pun tumbuh dengan keyakinan bahwa masa depan dapat diubah melalui usaha, bukan ditentukan sepenuhnya oleh kondisi saat ini.

Baca Juga: Pola Asuh Ciri Khas Para Ayah Juga Dibutuhkan untuk Tumbuh Kembang Anak

Sebaliknya, jika orang tua terbiasa mengucapkan kalimat-kalimat yang sarat dengan keputusasaan dan rasa tidak berdaya, anak berisiko tumbuh dengan mentalitas korban.

Mereka bisa saja percaya bahwa kesuksesan hanyalah milik orang lain, sementara diri mereka ditakdirkan untuk selalu tertinggal. Pola pikir seperti ini dapat menghambat keberanian anak untuk bermimpi, mencoba hal baru, dan mengambil peluang.

Dengan menghindari ucapan serta sikap yang mencerminkan mental miskin, orang tua dapat membantu membangun fondasi mental yang kuat bagi anak.

Pola pikir yang sehat, optimistis, dan berorientasi pada solusi akan menjadi bekal berharga yang memungkinkan anak menghadapi tantangan hidup dan membuka jalan menuju kesuksesan di masa depan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#karakter #cara mendidik anak #psikologis #mental miskin #masa depan #anak #pola asuh anak