Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Fenomena Self-Diagnose di TikTok: Antara Sadar Diri dan Salah Kaprah

M. Afiqul Adib • Rabu, 7 Januari 2026 | 11:44 WIB
Self-diagnose, fenomena kesehatan mental.
Self-diagnose, fenomena kesehatan mental.

RADARTUBAN - TikTok kini bukan hanya platform hiburan, tetapi juga ruang berbagi informasi, termasuk soal kesehatan mental.

Banyak pengguna yang menceritakan pengalaman pribadi, gejala yang mereka rasakan, hingga tips menghadapi masalah psikologis.

Dari sini muncul fenomena self-diagnose, yaitu kecenderungan orang menilai dirinya mengalami gangguan tertentu hanya berdasarkan informasi singkat yang mereka lihat di media sosial.

Fenomena ini menarik karena di satu sisi bisa meningkatkan kesadaran diri, tetapi di sisi lain berpotensi menimbulkan salah kaprah yang berbahaya.

Baca Juga: Kesehatan Mental Kerja Terancam Burnout, Ini Peran Karyawan dan Pemimpin Cegah Toxic Workplace

Antara Sadar Diri dan Edukasi

Sisi positif dari fenomena ini adalah meningkatnya awareness. Orang jadi lebih terbuka membicarakan kesehatan mental, yang dulu sering dianggap tabu.

Mereka mulai mengenali tanda-tanda stres, depresi, atau kecemasan, lalu mencari cara untuk mengatasinya.

TikTok, dengan format video pendek, membuat informasi lebih mudah diakses dan dipahami.

Bagi sebagian orang, self-diagnose bisa menjadi langkah awal untuk menyadari bahwa mereka butuh bantuan.

Kesadaran ini penting agar mereka tidak terus menekan perasaan atau mengabaikan kondisi mentalnya.

Salah Kaprah yang Berbahaya

Namun, di balik sisi positif, ada risiko besar. Self-diagnose tidak sama dengan diagnosis profesional. Informasi di TikTok sering kali terlalu umum, tidak mendalam, dan tidak mempertimbangkan konteks individu.

Akibatnya, orang bisa salah menilai dirinya. Misalnya, sekadar merasa sedih lalu menganggap diri mengalami depresi klinis, atau mudah lupa lalu mengira terkena ADHD.

Salah kaprah ini bisa menimbulkan dua masalah: Over-diagnosis: orang merasa dirinya sakit padahal sebenarnya tidak.

Under-diagnosis: orang menganggap masalahnya ringan padahal butuh penanganan serius.

Keduanya sama-sama berbahaya karena bisa membuat orang salah mengambil langkah, bahkan menghindari bantuan profesional.

Peran Profesional dan Literasi Digital

Fenomena self-diagnose di TikTok menunjukkan pentingnya literasi digital. Pengguna harus bisa membedakan mana informasi yang valid dan mana yang sekadar pengalaman pribadi.

Selain itu, peran profesional kesehatan mental tetap tidak tergantikan. Psikolog atau psikiater memiliki metode ilmiah untuk menilai kondisi seseorang, bukan sekadar berdasarkan gejala umum.

Media sosial bisa menjadi pintu masuk, tetapi langkah berikutnya harus tetap mengarah pada konsultasi dengan tenaga ahli. Dengan begitu, kesadaran diri tidak berubah menjadi salah kaprah.

Fenomena self-diagnose di TikTok adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia membantu orang lebih sadar akan kesehatan mental.

Di sisi lain, ia berisiko menimbulkan salah kaprah jika dijadikan dasar utama untuk menilai diri.

Solusi terbaik adalah menjadikan TikTok sebagai sarana edukasi awal, lalu melanjutkannya dengan konsultasi profesional.

Karena pada akhirnya, sadar diri itu penting, tapi diagnosis yang tepat hanya bisa datang dari ahlinya. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#self-diagnose #kesehatan mental #awareness #tiktok