RADARTUBAN - Siapa yang tidak pernah melihat tulisan “awas jalan berlubang” di pinggir jalan? Papan peringatan ini begitu sering ditemui, terutama di daerah yang jalannya rusak.
Alih-alih memperbaiki atau menambal lubang tersebut, solusi yang dipilih justru memberi peringatan agar pengendara berhati-hati.
Fenomena ini menarik untuk dibahas: mengapa kita lebih suka memasang tulisan daripada benar-benar memperbaiki masalah?
Solusi Cepat dan Murah
Salah satu alasan utamanya adalah praktis dan murah. Memasang papan peringatan jauh lebih mudah dibandingkan menambal jalan.
Tidak perlu anggaran besar, tidak perlu tenaga ahli, cukup selembar papan atau kain dengan tulisan sederhana.
Dalam hitungan jam, masalah dianggap “selesai” karena pengendara sudah diberi tahu. Padahal, lubang tetap ada dan tetap berbahaya.
Mentalitas Simbolik
Fenomena ini juga mencerminkan mentalitas simbolik: kita lebih suka menunjukkan bahwa masalah sudah “ditangani” meski sebenarnya belum.
Papan peringatan menjadi simbol kepedulian, seolah-olah pihak terkait sudah melakukan sesuatu.
Namun, kenyataannya, solusi hanya bersifat permukaan. Lubang tetap menganga, risiko kecelakaan tetap tinggi, hanya saja tanggung jawab seakan dialihkan kepada pengendara.
Menghindari Tanggung Jawab Besar
Menambal jalan bukan pekerjaan kecil. Ia membutuhkan anggaran, koordinasi, dan komitmen.
Sementara memasang tulisan hanyalah tindakan sementara yang tidak menuntut tanggung jawab besar. Dengan kata lain, papan peringatan adalah cara menghindari beban.
Kita merasa sudah melakukan sesuatu, padahal hanya menunda penyelesaian masalah yang sebenarnya.
Dampak bagi Masyarakat
Fenomena ini membawa dampak nyata:
Keselamatan terancam: lubang tetap berbahaya bagi pengendara, terutama di malam hari.
Kenyamanan berkurang: jalan rusak membuat perjalanan tidak nyaman dan memperlambat mobilitas.
Budaya permisif: masyarakat terbiasa dengan solusi setengah hati, sehingga masalah infrastruktur terus berulang.
Kepercayaan menurun: publik bisa kehilangan kepercayaan pada pihak berwenang karena masalah tidak benar-benar ditangani.
Baca Juga: Membahayakan, Banyak Jalan Berlubang di Ringroad Tuban
Refleksi Sosial
Jika ditarik lebih luas, fenomena “awas jalan berlubang” adalah cerminan cara kita menghadapi masalah dalam kehidupan sehari-hari. Kita sering memilih peringatan atau simbol daripada menyelesaikan akar masalah.
Misalnya, memberi nasihat tanpa solusi konkret, atau menunda pekerjaan dengan alasan sementara. Padahal, masalah tidak akan hilang hanya dengan peringatan. Ia butuh tindakan nyata.
Alasan kita lebih suka memasang tulisan “awas jalan berlubang” daripada menambal lubang itu adalah karena solusi simbolik lebih cepat, murah, dan tidak menuntut tanggung jawab besar.
Namun, dampaknya justru membuat masalah tetap ada dan berulang. Fenomena ini menjadi refleksi sosial bahwa kita sering memilih jalan mudah daripada menyelesaikan akar persoalan.
Pada akhirnya, papan peringatan hanyalah pengingat, bukan penyelesaian. Yang dibutuhkan adalah tindakan nyata: menambal lubang, memperbaiki jalan, dan memastikan keselamatan bersama. Karena masalah tidak akan selesai hanya dengan kata-kata, melainkan dengan kerja nyata. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni