Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kalau Ngomong Gunakan Bahasa Lisan, Kalau Nulis Gunakan Bahasa Tulisan: Sebuah Manner Dalam Obrolan

M. Afiqul Adib • Minggu, 11 Januari 2026 | 14:10 WIB
Bahasa lisan vs bahasa tulisan, manner komunikasi.
Bahasa lisan vs bahasa tulisan, manner komunikasi.

RADARTUBAN - Bahasa adalah alat komunikasi utama manusia. Namun, cara kita menyampaikannya berbeda tergantung medium.

Bahasa lisan digunakan saat berbicara langsung, biasanya lebih santai, penuh ekspresi, dan sering kali tidak terlalu memikirkan struktur.

Sementara bahasa tulisan menuntut keteraturan, kejelasan, dan penggunaan tanda baca yang tepat agar mudah dipahami.

Contohnya, saat ngobrol kita bisa bilang: “Eh, tadi aku ketemu dia lho, lucu banget ceritanya.” Kalimat itu terasa natural dalam percakapan.

Tapi kalau ditulis tanpa tanda baca, pembaca bisa bingung. Tulisan butuh titik, koma, dan struktur yang jelas agar maknanya tidak kabur.

Kenapa Titik Koma Penting?

Tanda baca seperti titik dan koma bukan sekadar aturan kaku, melainkan alat bantu pembaca.

Mereka berfungsi sebagai jeda, penekanan, dan penanda alur pikiran. Tanpa tanda baca, tulisan bisa terasa melelahkan dan sulit dipahami.

Bayangkan membaca paragraf panjang tanpa titik atau koma. Pembaca akan kehilangan arah, tidak tahu kapan harus berhenti, dan makna kalimat bisa berubah.

Dengan tanda baca yang tepat, tulisan menjadi lebih enak dibaca, mengalir, dan jelas.

Bahasa Lisan Lebih Fleksibel

Dalam bahasa lisan, kita punya keuntungan berupa intonasi, gestur, dan ekspresi wajah. Semua itu membantu menyampaikan maksud meski struktur kalimat tidak sempurna.

Kita bisa berhenti sejenak, tertawa, atau memberi penekanan dengan nada suara.

Namun, dalam bahasa tulisan, semua itu hilang. Yang tersisa hanyalah huruf dan tanda baca. Karena itu, tulisan menuntut disiplin lebih tinggi agar pesan tersampaikan dengan baik.

Titik dan koma menjadi pengganti jeda dan intonasi dalam percakapan.

Menulis Itu Butuh Kesadaran

Menulis bukan sekadar memindahkan kata-kata dari lisan ke tulisan. Ada proses penyusunan ulang agar lebih rapi dan mudah dipahami.

Kesadaran ini penting, terutama di era digital ketika komunikasi banyak dilakukan lewat teks: email, chat, atau media sosial.

Kalau kita menulis dengan gaya lisan tanpa memperhatikan tanda baca, pesan bisa disalahartikan.

Misalnya, kalimat “Ayo makan teman” tanpa koma bisa berarti mengajak makan teman, bukan makan bersama teman. Dengan koma, “Ayo makan, teman”, maknanya jadi jelas.

Bahasa lisan dan bahasa tulisan punya aturan berbeda. Ngomong boleh santai, penuh ekspresi, dan tidak terlalu terikat struktur.

Tapi kalau menulis, kita harus menggunakan bahasa tulisan dengan tanda baca yang benar agar mudah dibaca.

Titik dan koma bukan sekadar formalitas, melainkan alat penting untuk menjaga kejelasan pesan.

Pada akhirnya, menulis dengan tanda baca yang tepat adalah bentuk penghargaan kepada pembaca.

Karena tulisan yang rapi dan jelas membuat komunikasi lebih efektif, tidak membingungkan, dan lebih menyenangkan untuk dibaca. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Manner #tulisan #percakapan #lisan #obrolan