RADARTUBAN - Belakangan, isu mental health atau kesehatan mental semakin sering dibicarakan.
Media sosial, seminar, hingga obrolan sehari-hari mulai menyinggung pentingnya menjaga kondisi psikologis.
Hal ini tentu positif, karena kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
Namun, ada dua sisi yang perlu diwaspadai: menjadikan mental health sebagai alasan untuk menghindar dari tanggung jawab, atau memperlakukannya sebagai lelucon yang tidak serius.
Baca Juga: Kerja Nggak Harus Sesuai Passion, yang Penting Nggak Menyiksa Mental dan Fisik
Mental Health Bukan Alasan
Ada kalanya seseorang menggunakan isu mental health sebagai tameng untuk menghindari kewajiban.
Misalnya, menunda pekerjaan dengan alasan “lagi nggak mood” atau menghindari tanggung jawab dengan dalih “lagi down.”
Padahal, kesehatan mental bukan sekadar mood atau perasaan sesaat. Menjadikannya alasan bisa membuat orang lain meremehkan isu ini, bahkan menganggapnya sekadar excuse.
Kesehatan mental memang perlu dijaga, tetapi ia tidak boleh dijadikan pembenaran untuk menghindari komitmen.
Justru, dengan memahami kondisi mental, kita bisa mencari cara agar tetap produktif tanpa mengorbankan diri sendiri.
Mental Health Juga Bukan Lelucon
Di sisi lain, masih banyak orang yang menganggap isu mental health sebagai bahan candaan. Misalnya, melabeli diri “depresi” hanya karena sedang bosan, atau bercanda soal gangguan mental tanpa memahami dampaknya.
Sikap ini berbahaya karena bisa membuat orang yang benar-benar mengalami masalah mental merasa tidak dihargai.
Mental health bukan sesuatu yang bisa disepelekan. Gangguan psikologis nyata bisa berdampak besar pada hidup seseorang, mulai dari produktivitas, hubungan sosial, hingga kualitas hidup secara keseluruhan.
Menjadikannya lelucon hanya memperburuk stigma dan membuat orang enggan mencari bantuan.
Menemukan Keseimbangan
Kuncinya adalah menempatkan mental health secara proporsional. Tidak dijadikan alasan untuk lari dari tanggung jawab, tapi juga tidak dianggap remeh.
Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:
Kenali batas diri: pahami kapan butuh istirahat dan kapan harus tetap berkomitmen.
Komunikasikan dengan jujur: jika memang butuh waktu, sampaikan dengan jelas tanpa berlebihan.
Hargai orang lain: jangan meremehkan atau menjadikan isu mental health sebagai bahan candaan.
Cari bantuan profesional: jika merasa kesulitan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan ahli.
Dengan keseimbangan ini, mental health bisa benar-benar menjadi bagian penting dari hidup, bukan sekadar alasan atau lelucon.
Mental health adalah isu serius yang harus diperlakukan dengan bijak.
Ia bukan alasan untuk menghindar dari tanggung jawab, tetapi juga bukan lelucon yang bisa dijadikan bahan candaan.
Menjaga kesehatan mental berarti menjaga kualitas hidup, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.
Pada akhirnya, mental health adalah tentang keseimbangan: bagaimana kita tetap bertanggung jawab, sekaligus memberi ruang bagi diri untuk pulih dan berkembang. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama