RADARTUBAN - Buah sukun (Artocarpus altilis), yang sering disebut “roti tropis”, kini menarik perhatian sebagai salah satu solusi strategis dalam upaya ketahanan pangan nasional dan diversifikasi sumber karbohidrat di Indonesia.
Selama ini sukun sering dipandang sebagai buah biasa, namun potensinya jauh lebih besar dibandingkan persepsi umum tersebut.
Potensi Sukun sebagai Sumber Pangan Alternatif
Sukun merupakan tanaman tropis yang tumbuh subur di berbagai wilayah Indonesia dan relatif mudah dibudidayakan tanpa perawatan intensif.
Pohon ini memiliki masa produktif panjang, mampu berbuah secara terus-menerus hingga puluhan tahun, memberikan panen dua kali setahun (puncak panen pada Januari - Februari serta panen susulan pada Juli - Agustus).
Karakter ini membuat sukun menjadi kandidat tangguh sebagai pangan alternatif dalam menghadapi ketidakpastian musim tanam padi.
Buahnya sendiri kaya akan karbohidrat kompleks, serat, vitamin, mineral, dan antioksidan alami, dengan komposisi yang dalam bentuk tepung bahkan setara dengan beras sebagai sumber energi.
Kandungan gizi ini tidak hanya memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga mendukung kesehatan pencernaan dan sistem kekebalan tubuh.
Baca Juga: Maraknya Ketahanan Pangan di Rumah: Antara Kesadaran Warga dan Harapan Palsu Pemerintah
Diversifikasi Pangan dan Ketahanan Nasional
Ketergantungan Indonesia pada beras sebagai sumber pangan utama selama puluhan tahun membuat risiko pangan menjadi tinggi jika terjadi gangguan produksi padi, misalnya akibat perubahan iklim seperti El Niño atau La Niña.
Sukun dipandang sebagai salah satu tanaman lokal yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap beras, membantu memperkuat ketahanan pangan nasional.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga menyatakan bahwa buah sukun bisa menjadi alternatif pengganti beras, karena kandungan karbohidratnya cukup tinggi dan tanaman ini dapat tumbuh di banyak daerah di Indonesia.
Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan sukun bukan hanya relevan secara lokal, tetapi juga berpotensi menjadi komponen penting dalam kebijakan pangan nasional ke depan.
Inovasi Olahan dan Tantangan
Pengembangan sukun sebagai pangan masa depan juga termasuk dalam teknologi pengolahan.
Dengan inovasi pada olahan tepung sukun, buah ini bisa dijadikan bahan baku produk pangan seperti roti, mie, sereal, atau bahkan beras analog yang memenuhi kebutuhan masyarakat akan karbohidrat.
Teknologi semenjana sudah menunjukkan bahwa tepung sukun dapat menjadi pengganti karbohidrat pokok di produk pangan tertentu.
Meski potensi tersebut besar, tantangan seperti umur simpan buah yang singkat, persepsi masyarakat yang masih rendah terhadap nilai gizi sukun, serta kebutuhan pembibitan unggul masih perlu diatasi agar pengembangan sukun bisa maksimal.
Dukungan kebijakan pertanian dan kampanye edukasi sangat penting untuk menjadikan sukun bukan hanya sebagai pangan alternatif, tetapi juga sebagai ikon pangan sehat dan berkelanjutan bagi masa depan Indonesia. (*)
https://www.antaranews.com/berita/3791256/brin-sukun-bisa-jadi-alternatif-pengganti-beras
https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/54411
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni