RADARTUBAN - Child grooming sering kali menyamar sebagai perhatian tulus dari orang dewasa terhadap anak, padahal merupakan proses manipulasi berbahaya menuju eksploitasi seksual.
Pelaku membangun kepercayaan secara perlahan agar korban merasa aman dan bergantung, sehingga sulit mendeteksi ancamannya sejak awal.
Pelaku memulai dengan pendekatan sederhana seperti bertanya kabar atau memberi pujian, lalu meningkatkan intensitas melalui hadiah dan rahasia bersama.
Tahapan ini mencakup targeting korban rentan, membangun ikatan emosional, isolasi dari keluarga, hingga normalisasi sentuhan tidak pantas yang berujung eksploitasi.
Grooming bisa terjadi offline maupun online via media sosial, di mana pelaku berpura-pura sebagai teman sebaya.
Perhatikan perubahan perilaku anak seperti tertutup soal aktivitas online, menerima hadiah misterius, atau sering bertemu orang dewasa tak dikenal keluarga.
Penurunan prestasi sekolah, kecemasan mendadak, atau penggunaan bahasa seksual tak sesuai usia juga jadi indikator kuat.
Orang tua dan guru harus peka terhadap pola ini untuk intervensi dini.
Korban child grooming rentan mengalami trauma psikologis seperti depresi, gangguan kecemasan, dan kesulitan membangun hubungan sehat di masa dewasa.
Eksploitasi ini tak hanya merusak mental, tapi juga bisa memicu siklus kekerasan seperti dating violence pada remaja.
Orang tua perlu membuka komunikasi terbuka dengan anak, awasi penggunaan gadget, dan ajarkan batasan pribadi sejak dini.
Laporkan kecurigaan ke polisi atau layanan seperti Komnas Perlindungan Anak untuk cegah penyebaran bahaya ini. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama