Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Mengenal Hipergami: Fenomena Menjalin Hubungan dengan Pasangan yang Status Sosialnya Lebih Tinggi

M. Afiqul Adib • Kamis, 22 Januari 2026 | 13:35 WIB
hipergami, fenomena hipergami.
hipergami, fenomena hipergami.

RADARTUBAN - Dalam ilmu sosial, istilah hipergami merujuk pada praktik seseorang yang berpacaran atau menikah dengan pasangan yang memiliki status sosial lebih tinggi daripada dirinya.

Status sosial ini bisa berupa pendidikan, ekonomi, pekerjaan, atau bahkan popularitas.

Fenomena ini bukan hal baru, tetapi semakin sering dibicarakan di era modern karena media sosial memperlihatkan perbedaan status dengan lebih jelas.

Baca Juga: Larangan Media Sosial Anak di Australia Mulai Terasa, Meta Tutup 550 Ribu Akun Dibawah Umur

Sejarah dan Konteks Sosial

Hipergami sudah lama menjadi bagian dari dinamika masyarakat. Dalam banyak budaya tradisional, perempuan sering didorong untuk mencari pasangan dengan status sosial lebih tinggi sebagai bentuk jaminan ekonomi dan keamanan.

Sementara itu, laki-laki dianggap lebih mudah diterima jika menikah dengan pasangan dari status sosial lebih rendah.

Namun, di era modern, hipergami tidak lagi terbatas pada gender tertentu. Baik laki-laki maupun perempuan bisa terlibat dalam praktik ini, tergantung pada tujuan dan preferensi masing-masing.

Baca Juga: Safa Marwah Bantah Isu Hubungan dengan Ridwan Kamil, Tegaskan Siap Hadapi KPK

Alasan Hipergami Terjadi

Ada beberapa faktor yang membuat hipergami tetap relevan hingga sekarang:

Keamanan finansial: pasangan dengan status ekonomi lebih tinggi dianggap bisa memberikan stabilitas.

Prestise sosial: menikah dengan orang berstatus tinggi bisa meningkatkan citra diri di mata masyarakat.

Akses jaringan: hubungan dengan pasangan berstatus tinggi membuka peluang baru dalam karier atau kehidupan sosial.

Psikologis: ada rasa bangga atau percaya diri ketika bersama pasangan yang dianggap “lebih sukses.”

Dampak Hipergami

Fenomena hipergami membawa dampak positif maupun negatif:

Positif: bisa meningkatkan kualitas hidup, membuka akses baru, dan memberi rasa aman.

Negatif: berpotensi menimbulkan ketimpangan dalam hubungan, misalnya rasa inferior atau ketergantungan berlebihan.

Psikologis: pasangan dengan status lebih rendah bisa merasa tidak percaya diri, sementara pasangan dengan status lebih tinggi bisa merasa lebih dominan.

Hipergami juga bisa memengaruhi dinamika keluarga dan masyarakat, terutama jika perbedaan status terlalu mencolok.

Hipergami di Era Media Sosial

Media sosial memperkuat fenomena ini. Banyak orang membandingkan diri dengan pasangan orang lain, melihat gaya hidup mewah, dan akhirnya terdorong mencari pasangan dengan status lebih tinggi.

Bahkan, aplikasi kencan sering menampilkan profil dengan pencapaian atau status sosial sebagai daya tarik utama.

Fenomena ini membuat hipergami semakin terlihat nyata, meski kadang hanya sebatas citra digital.

Cara Membangun Hubungan Sehat

Jika terlibat dalam hipergami, penting untuk menjaga keseimbangan agar hubungan tetap sehat:

Komunikasi terbuka: bicarakan perbedaan status dengan jujur.
Hargai peran masing-masing: jangan hanya menilai pasangan dari status sosial.

Bangun kepercayaan diri: fokus pada kelebihan diri, bukan hanya kekurangan.

Kesetaraan dalam hubungan: pastikan keputusan diambil bersama, bukan hanya oleh pihak yang lebih dominan.

Hipergami adalah fenomena sosial di mana seseorang menjalin hubungan dengan pasangan yang status sosialnya lebih tinggi. Meski bisa membawa keuntungan, praktik ini juga menimbulkan tantangan dalam hubungan.

Pada akhirnya, hubungan sehat tidak ditentukan oleh status sosial, tetapi oleh komunikasi, rasa saling menghargai, dan komitmen bersama. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#status sosial #ilmu sosial #perempuan #Hipergami