RADARTUBAN – Kekayaan besar ternyata tidak lagi identik dengan kehidupan glamor dan pesta pora di kalangan calon konglomerat teknologi Amerika Serikat.
Generasi pengusaha rintisan (startup) masa kini justru menunjukkan pola hidup yang berlawanan, yakni lebih mengutamakan ketenangan, kedisiplinan, serta fokus penuh pada pengembangan bisnis.
Fenomena ini tergambar dari kisah Mahir Laul, pendiri startup perangkat lunak sumber daya manusia bernama Velric.
Dalam wawancara dengan Business Insider, Laul mengungkapkan bahwa kehidupan sosial dan percintaan yang lazim dinikmati anak muda kini tergantikan oleh notifikasi aplikasi kerja seperti Slack dan agenda presentasi kepada investor.
Baca Juga: Dean Fujioka dan Putri Konglomerat Indonesia Bercerai Setelah 13 Tahun Menikah
Mengutip laporan Futurism pada Rabu (21/1), Laul menyebut aktivitas hariannya hanya berkutat pada dua hal utama: pusat kebugaran dan pekerjaan.
Ia mengakui telah begitu terobsesi dengan pengembangan karier hingga kehidupan asmaranya menjadi tidak terurus.
Menurut Laul, kondisi tersebut bukan hanya dialaminya seorang diri. Banyak pendiri startup lain juga menjalani pola hidup serupa, dengan waktu yang nyaris habis tersita untuk membangun perusahaan, sehingga hampir tidak tersisa ruang untuk menjalin hubungan romantis, baik sekadar berkencan maupun membangun komitmen jangka panjang.
“Tekanan untuk menciptakan startup unicorn berikutnya membuat setiap menit terasa sangat berharga,” ungkapnya.
Baca Juga: Misteri Rp 60 Triliun Tunggakan Pajak : Negara Serius atau Sekadar Gertak Konglomerat?
Pandangan itu turut diamini oleh Annie Liao, pendiri Build Club, perusahaan pendidikan berbasis kecerdasan buatan (AI).
Ia menilai peluang bisnis memiliki nilai yang terlalu tinggi untuk dikorbankan hanya demi bersosialisasi di malam hari.
Liao bahkan menyebut sejumlah rekan serumahnya di San Francisco sengaja menghindari aplikasi kencan karena dianggap sebagai distraksi yang dapat mengganggu produktivitas.
Namun, tidak semua pengusaha teknologi mengalami hal serupa. Bagi mereka yang telah memiliki pasangan sejak sebelum membangun usaha, hubungan tersebut justru dinilai menjadi kekuatan tambahan.
Yang Fan Yun, salah satu pendiri perusahaan penyedia agen AI untuk peramban web, Composite, mengaku keberadaan pasangan sangat membantu perjalanan bisnisnya.
Ia telah mengenal kekasihnya sejak sama-sama menempuh pendidikan di Stanford. Kini, sang pasangan juga terlibat langsung dalam berbagai tahapan pengembangan produk, termasuk pengujian sistem.
Laul sendiri tidak menutup diri terhadap hubungan asmara. Ia menyinggung pepatah lama bahwa di balik kesuksesan seorang pria terdapat sosok perempuan yang tepat.
Namun, menurutnya, mencari pasangan hidup menjadi tantangan tersendiri ketika fokus utama sepenuhnya tercurah pada pekerjaan, bukan romansa.
Perubahan gaya hidup para calon konglomerat teknologi ini juga dibarengi dengan tren lain, seperti menjauhi alkohol, menjalani rutinitas olahraga secara ketat, serta menerapkan pola makan yang terkontrol demi menjaga performa fisik dan mental. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni