Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Bukan Hanya Gaji, Berikut 5 Hal Ini Menjadi Tolok Ukur Klasifikasi Sosial Ekonomi Masyarakat

M Robit Bilhaq • Senin, 26 Januari 2026 | 12:05 WIB
Ilustrasi keluarga bahagia sedang berkumpul.
Ilustrasi keluarga bahagia sedang berkumpul.

RADARTUBAN - Dalam pidatonya di forum World Economic Forum (WEF) yang berlangsung di Davos, Swiss, Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa angka kemiskinan ekstrem di Indonesia secara konsisten mengalami penurunan hingga mencapai titik terendah.

Isu tersebut memang menjadi prioritas utama pemerintah yang selaras dengan ambisi untuk menghapuskan kemiskinan serta mendongkrak kualitas ekonomi rakyat secara menyeluruh.

Terdapat parameter tertentu yang dapat digunakan untuk mengategorikan masyarakat ke dalam strata ekonomi tertentu.

Dibawah ini adalah lima karakteristik utama yang seringkali dijadikan penanda bahwa seseorang berada dalam kelompok ekonomi kelas menengah bawah atau kelas bawah.

1. Kualitas dan Akses Tempat Tinggal

Salah satu pos pengeluaran paling signifikan bagi sebuah keluarga adalah biaya tempat tinggal.

Apabila seseorang merasakan kesulitan finansial untuk menempati hunian yang aman, nyaman, serta berada di lingkungan yang memadai.

Hal tersebut dapat menjadi petunjuk kuat bahwa individu tersebut berada pada strata ekonomi kelas menengah bawah atau bahkan kelas bawah.

2. Jenis Pekerjaan dan Status Profesional

Sektor pekerjaan sering kali menjadi cermin langsung dari status ekonomi seseorang.

Profesi yang bergerak di bidang jasa kebersihan, manufaktur, ritel, sopir truk, hingga pelayan restoran umumnya menempatkan pekerjanya pada level ekonomi yang rendah.

Nathan Brunner, yang menjabat sebagai CEO Salarship, menjelaskan bahwa seseorang cenderung dianggap sebagai bagian dari kelas menengah apabila memegang posisi manajerial atau bekerja sebagai tenaga ahli spesialis.

Sebaliknya, pekerjaan yang hanya menuntut keterampilan rendah atau bersifat temporer dengan upah minim serta fasilitas tunjangan yang sangat terbatas biasanya mengukuhkan status sosial seseorang di kelas bawah.

Meski demikian, profesi tertentu seperti praktisi IT, akuntan, perawat, dan tenaga pendidik yang posisinya cukup fleksibel antara kelas pekerja atau kelas menengah, tergantung pada sertifikasi serta tingkat senioritas mereka.

Bahkan, pekerjaan kantoran yang selama ini dianggap memiliki prestise tetap bisa menempatkan pelakunya di kelas menengah jika gaji yang diterima masih dalam kategori moderat.

3. Kemampuan Menabung dan Berinvestasi

Memiliki cadangan dana serta aset investasi adalah fondasi penting untuk menjaga keamanan finansial serta menumpuk kekayaan di masa depan.

Namun, kemampuan untuk menyisihkan uang dalam bentuk tabungan itu kali dianggap sebagai sebuah kemewahan yang sulit dicapai oleh mereka yang berada di kelas bawah.

Dengan artian bahwa jika seseorang tidak memiliki simpanan dana yang memadai atau tidak memiliki persiapan dana pensiun, kemungkinan besar orang tersebut termasuk dalam kelompok ekonomi kelas bawah.

4. Pola Gaya Hidup dan Kebebasan Finansial

Indikator lain terlihat dari kemampuan seseorang dalam menikmati gaya hidup tertentu, seperti melakukan perjalanan wisata tahunan, rutin bersantap di restoran, atau berbelanja tanpa rasa cemas yang berlebihan.

Aktivitas menyenangkan semacam ini memerlukan landasan keuangan yang stabil.

Jika pemenuhan kesenangan kecil tersebut terasa sangat memberatkan karena masalah anggaran, hal itu merupakan sinyal bahwa individu tersebut berada di kategori kelas bawah.

Meskipun pengelolaan uang yang bijak dapat membantu mewujudkan keinginan tersebut, kebebasan ekonomi untuk memilih pengeluaran hiburan secara berkala lebih identik dengan stabilitas finansial yang dimiliki oleh masyarakat kelas menengah.

5. Tingkat Pencapaian Pendidikan

Pencapaian akademik tertinggi merupakan salah satu penanda yang akurat untuk melihat posisi seseorang dalam struktur ekonomi.

Jika seseorang berhasil meraih gelar sarjana, kemungkinan besar ia termasuk dalam golongan kelas menengah.

Hal ini dikarenakan akses menuju pendidikan tinggi sering kali terhambat oleh kendala sistemik bagi mereka yang berasal dari kelas bawah.

Pendidikan yang lebih tinggi pada umumnya menjadi gerbang menuju pekerjaan dengan kompensasi yang lebih besar.

Sehingga jika biaya kuliah dirasa tidak terjangkau dan menghalangi seseorang untuk menempuhnya, hal itu menjadi indikator kuat keberadaan mereka di strata kelas bawah. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#kualitas #presiden #akses #prabowo #WEF