RADARTUBAN- Arus modernitas yang serba cepat dinilai membuat banyak orang kehilangan kendali atas diri sendiri.
Menjelang tahun 2026 yang diprediksi semakin kompetitif, praktisi mindfulness dan pemulihan trauma, Adjie Santosoputro, mengajak masyarakat untuk mulai memberi jeda pada hidup.
Pesan tersebut ia sampaikan dalam perbincangan mendalam di kanal YouTube Raditya Dika yang tayang baru-baru ini, dengan tema “Supaya 2026 Makin Chill”.
Hustle Culture Dinilai Picu Krisis Mental
Adjie menyoroti maraknya fenomena hustle culture atau budaya kerja berlebihan, khususnya di kalangan masyarakat perkotaan.
Menurutnya, banyak orang bekerja melampaui batas karena takut gagal dan tidak diterima secara sosial.
“Banyak orang mengukur harga diri dari pencapaian. Kalau tidak sukses, merasa tidak berguna. Ini yang membuat stres jadi berkepanjangan,” ujar Adjie.
Ia menilai pola pikir tersebut berbahaya karena mendorong seseorang mengabaikan kesehatan fisik dan mental demi ambisi.
Mindfulness Jadi Kunci Ketenangan
Adjie menjelaskan bahwa ketenangan dapat dicapai dengan melatih mindfulness, yakni kemampuan untuk hadir sepenuhnya di masa kini.
Raditya Dika dalam obrolan tersebut juga mengaku pernah jatuh sakit karena terlalu memaksakan diri mengejar target kerja tahunan.
Menurut Adjie, kondisi tersebut merupakan tanda tubuh kehilangan keseimbangan antara ambisi dan kesadaran diri.
Komedi, Ilmu, dan Makna Hidup
Dalam diskusi tersebut, Adjie juga membahas soal “kedalaman hidup”. Ia menilai komedi merupakan cara efektif menyampaikan pesan serius dengan ringan, sedangkan ilmu pengetahuan kerap terasa kaku dan sulit dicerna.
Menggabungkan keduanya, kata Adjie, penting agar seseorang tetap relevan tanpa kehilangan makna hidup.
Cara Sederhana Atasi Overthinking
Terkait kebiasaan overthinking, terutama pada malam hari, Adjie mengingatkan bahwa pikiran manusia memang tidak pernah benar-benar diam.
“Pikiran itu seperti awan, diri kita adalah langitnya. Awan boleh lewat, tapi langit tidak perlu ikut terganggu,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa manusia bukanlah pikirannya, melainkan pihak yang mengamati pikiran tersebut.
Soal Ego dan Media Sosial
Adjie juga menyinggung persoalan ego yang sering muncul dalam interaksi sosial, terutama di media sosial.
Ia mengingatkan agar seseorang tidak menganggap argumen atau pendapat sebagai identitas diri sepenuhnya.
“Diserang argumen bukan berarti diserang sebagai manusia,” katanya.
Hidup Sadar Harus Dipraktikkan
Menutup perbincangan, Adjie menegaskan bahwa mindfulness bukan sekadar teori, melainkan pengalaman yang harus dipraktikkan.
Ia mengibaratkannya seperti mencicipi durian, yang tidak bisa dipahami hanya lewat penjelasan, tetapi harus dirasakan langsung.
Adjie berharap, dengan kesadaran diri yang lebih baik, masyarakat bisa menjalani 2026 dengan lebih tenang, tangguh secara mental, dan tidak mudah dikuasai kecemasan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni