Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Praktisi Mindfulness Adjie Santoso Ungkap Bahaya Hustle Culture dan Cara Jalani 2026 Lebih Tenang

Rista Dwi Indarwati • Kamis, 29 Januari 2026 | 05:30 WIB
Foto Adjie Santoso Putro dan Raditya Dika
Foto Adjie Santoso Putro dan Raditya Dika

RADARTUBAN- Arus modernitas yang serba cepat dinilai membuat banyak orang kehilangan kendali atas diri sendiri.

Menjelang tahun 2026 yang diprediksi semakin kompetitif, praktisi mindfulness dan pemulihan trauma, Adjie Santosoputro, mengajak masyarakat untuk mulai memberi jeda pada hidup.

Pesan tersebut ia sampaikan dalam perbincangan mendalam di kanal YouTube Raditya Dika yang tayang baru-baru ini, dengan tema “Supaya 2026 Makin Chill”.

Baca Juga: Kenapa Kita Sering Terburu-Buru Padahal Nggak Ngejar Apa-Apa? Wajah Lain dari Hustle Culture yang Terlalu Dipuja

Hustle Culture Dinilai Picu Krisis Mental

Adjie menyoroti maraknya fenomena hustle culture atau budaya kerja berlebihan, khususnya di kalangan masyarakat perkotaan.

Menurutnya, banyak orang bekerja melampaui batas karena takut gagal dan tidak diterima secara sosial.

“Banyak orang mengukur harga diri dari pencapaian. Kalau tidak sukses, merasa tidak berguna. Ini yang membuat stres jadi berkepanjangan,” ujar Adjie.

Ia menilai pola pikir tersebut berbahaya karena mendorong seseorang mengabaikan kesehatan fisik dan mental demi ambisi.

Mindfulness Jadi Kunci Ketenangan

Adjie menjelaskan bahwa ketenangan dapat dicapai dengan melatih mindfulness, yakni kemampuan untuk hadir sepenuhnya di masa kini.

Raditya Dika dalam obrolan tersebut juga mengaku pernah jatuh sakit karena terlalu memaksakan diri mengejar target kerja tahunan.

Menurut Adjie, kondisi tersebut merupakan tanda tubuh kehilangan keseimbangan antara ambisi dan kesadaran diri.

Komedi, Ilmu, dan Makna Hidup

Dalam diskusi tersebut, Adjie juga membahas soal “kedalaman hidup”. Ia menilai komedi merupakan cara efektif menyampaikan pesan serius dengan ringan, sedangkan ilmu pengetahuan kerap terasa kaku dan sulit dicerna.

Menggabungkan keduanya, kata Adjie, penting agar seseorang tetap relevan tanpa kehilangan makna hidup.

Cara Sederhana Atasi Overthinking

Terkait kebiasaan overthinking, terutama pada malam hari, Adjie mengingatkan bahwa pikiran manusia memang tidak pernah benar-benar diam.

“Pikiran itu seperti awan, diri kita adalah langitnya. Awan boleh lewat, tapi langit tidak perlu ikut terganggu,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa manusia bukanlah pikirannya, melainkan pihak yang mengamati pikiran tersebut.

Soal Ego dan Media Sosial

Adjie juga menyinggung persoalan ego yang sering muncul dalam interaksi sosial, terutama di media sosial.

Ia mengingatkan agar seseorang tidak menganggap argumen atau pendapat sebagai identitas diri sepenuhnya.

“Diserang argumen bukan berarti diserang sebagai manusia,” katanya.

Hidup Sadar Harus Dipraktikkan

Menutup perbincangan, Adjie menegaskan bahwa mindfulness bukan sekadar teori, melainkan pengalaman yang harus dipraktikkan.

Ia mengibaratkannya seperti mencicipi durian, yang tidak bisa dipahami hanya lewat penjelasan, tetapi harus dirasakan langsung.

Adjie berharap, dengan kesadaran diri yang lebih baik, masyarakat bisa menjalani 2026 dengan lebih tenang, tangguh secara mental, dan tidak mudah dikuasai kecemasan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#hustle culture #Adjie Santosoputro #Mindfulness #overthingking