RADARTUBAN – Pernah tiba-tiba lupa tujuan saat baru saja masuk ke ruangan lain? Baru melangkah beberapa meter, lalu berhenti sambil bergumam, “Tadi mau ngapain ya?”.
Jika iya, Anda tidak sendirian. Fenomena ini kerap dialami banyak orang dalam kehidupan sehari-hari dan dikenal dalam dunia psikologi sebagai The Doorway Effect atau efek ambang pintu.
Update Memori Terjadi Terlalu Cepat
Fenomena ini bukan tanda kepikunan dini. Melansir dari Alodokter, kondisi tersebut terjadi akibat cara kerja otak yang secara otomatis memperbarui informasi.
Saat seseorang berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain, otak menganggap ambang pintu sebagai batas antara dua konteks peristiwa yang berbeda.
Informasi lama akan “dipindahkan” atau dilemahkan untuk memberi ruang bagi informasi baru di lingkungan berikutnya.
Akibatnya, ingatan jangka pendek tentang tujuan awal sering kali menghilang sesaat.
Otak Mengelompokkan Tugas Berdasarkan Lokasi
Penjelasan serupa juga diungkap dalam kajian perilaku manusia yang dirangkum Kompas Health. Otak manusia cenderung mengaitkan tugas dengan lokasi fisik tertentu.
Ketika seseorang melewati pintu, otak menganggap aktivitas di ruangan sebelumnya telah selesai. Fokus pun otomatis beralih ke suasana baru yang dihadapi, sehingga tujuan awal seakan “terhapus” dari pikiran.
Menariknya, efek ini bisa terjadi meski jarak antar-ruangan hanya beberapa langkah.
Cara Ampuh Mengembalikan Fokus
Menurut laman kesehatan Hello Sehat, ada beberapa cara sederhana untuk mengurangi dampak doorway effect:
- Ulangi niat secara lisan
Ucapkan tujuan Anda, misalnya “ambil gunting… ambil gunting…” hingga sampai ke ruangan tujuan. - Gunakan visualisasi
Bayangkan secara detail benda atau aktivitas yang akan dilakukan agar memori lebih kuat. - Kembali ke ruangan semula
Jika sudah terlanjur lupa, berjalanlah kembali ke tempat awal. Perubahan konteks ini sering memicu ingatan muncul kembali.
Stres dan Kelelahan Bisa Memperparah
Meski tergolong normal, doorway effect bisa terjadi lebih sering pada orang yang kurang tidur, stres, atau terbiasa melakukan banyak tugas sekaligus.
Oleh karena itu, menjaga kualitas istirahat dan mengurangi multitasking berlebihan dapat membantu menekan frekuensi “lupa dadakan” ini.
Memahami cara kerja otak membuat kita tak perlu panik saat tiba-tiba kehilangan fokus di ambang pintu. Kadang, bukan karena pelupa—melainkan karena otak kita terlalu cepat beradaptasi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni