RADARTUBAN – Bangun tidur, tangan otomatis meraih ponsel. Belum benar-benar sadar, tapi dunia layar sudah dibuka lebih dulu.
Tanpa disadari, banyak remaja hari ini hidup di dua dunia sekaligus: dunia nyata dan dunia layar.
Di dunia nyata, mereka bersekolah, nongkrong, dan berbincang dengan teman.
Namun di saat yang sama, pikiran sibuk mengecek chat, notifikasi, dan melakukan scrolling tanpa tujuan.
Baca Juga: Ramai Dibahas di Media Sosial, Generasi Sigma Disebut Lahir Mulai 2026, Ini Penjelasan Psikolog
Ponsel bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan telah berubah menjadi teman sehari-hari.
Ketika Layar Terasa Normal, Tapi Tubuh Mulai Lelah
Semua terasa normal—hingga tubuh mulai terasa lelah dan pikiran semakin sulit fokus.
Bukan karena remaja malas, melainkan karena otak nyaris tak pernah benar-benar berhenti.
Dunia layar terus berjalan tanpa jeda, sementara dunia nyata justru sering terlewat begitu saja.
Belajar Menentukan Batas
Masalahnya bukan soal menjauh dari teknologi. Dunia digital adalah bagian dari kehidupan. Namun yang penting adalah tahu kapan harus berhenti.
Layar bisa dimatikan kapan saja, tetapi momen nyata tidak bisa diulang. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni