Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Dr. Rizky Edmi Edison Ungkap Otak Tajam Ditentukan Gaya Hidup Sehat, Bukan Sekadar Skor IQ Tinggi

Rista Dwi Indarwati • Minggu, 15 Februari 2026 | 07:35 WIB

Kebiasaan yang bisa mempengaruhi kecerdasan otak
Kebiasaan yang bisa mempengaruhi kecerdasan otak

RADARTUBAN - Selama ini, banyak orang mengira bahwa kecerdasan hanya ditentukan oleh skor IQ yang tinggi.

Namun, ahli saraf (neuroscientist) Associate Professor Dr. Rizky Edmi Edison, PhD, mengungkapkan fakta menarik, otak yang "encer" dan tajam lebih banyak dipengaruhi oleh kebiasaan harian yang sehat atau "waras", daripada sekadar angka IQ.

Dalam pembicaraannya di chaneel YouTube Rory Asyari, Dr. Edmi menjelaskan bahwa musuh utama masyarakat modern saat ini adalah gaya hidup digital yang tidak terkendali dan kurangnya aktivitas fisik.

Baca Juga: Skor IQ Indonesia Disorot, Psikolog Tegaskan Tak Bisa Jadi Vonis

Scrolling Tanpa Henti : “Kerja Berat” Bagi Saraf

Banyak dari kita merasa rileks saat scroll media sosial sambil berbaring. Padahal, Dr. Edmi menegaskan bahwa hal tersebut justru menguras energi otak secara drastis. Otak manusia membutuhkan waktu sekitar 5-6 detik untuk memproses satu informasi.

"Saat kita terus berpindah konten secara cepat (unmindful scrolling), otak dipaksa bekerja ekstra keras memproses stimulasi yang masuk. Inilah yang menyebabkan kita sering merasa lelah mental atau brain fog meski fisik tidak banyak bergerak," jelasnya.

Baca Juga: Alasan Kenapa Orang Ber-IQ Tinggi Gagal dan Orang Ber-IQ Rata-Rata Justru Sukses?

Mitos 10.000 Langkah dan Kesehatan Otak

Selain bijak menggunakan gadget, bergerak adalah kunci menjaga fungsi kognitif. Dr. Edmi meluruskan mitos populer mengenai target 10.000 langkah sehari.

Menurutnya, berjalan kaki sekitar 3.000 langkah atau selama 20 menit saja sudah cukup untuk memompa oksigen ke otak melalui aliran darah.

Gerakan fisik sederhana seperti naik tangga atau berjalan kaki terbukti mampu mengaktifkan kembali otot betis yang bertindak sebagai "jantung kedua" untuk mendorong darah kembali ke otak, terutama bagi mereka yang sering duduk lama di depan laptop.

Kembalikan Budaya Merenung

Hal menarik yang ditekankan oleh Dr. Edmi adalah pentingnya "merenung" atau bengong.

Di era budaya sibuk yang menuntut semua orang terlihat produktif, merenung justru menjadi kemewahan (luxury) yang sangat bermanfaat.

"Justru di saat merenung itulah otak masuk ke Default Mode Network. Di fase ini, otak melakukan penyaringan informasi dan memunculkan ide-ide kreatif serta inovasi baru," ungkap ilmuwan yang juga dosen di Brunei Darussalam tersebut.

3 Cara Otak Tajam Menurut DR. Edmi : Fokus dan Sosialisasi

1. Single Tasking: Fokus pada satu pekerjaan dalam satu waktu selama 20 menit, lalu ambil jeda singkat.

2. Kontrol Kalori: Makan secukupnya karena kelebihan kalori justru membuat otak mengantuk dan fungsinya menurun.

3. Sosialisasi Langsung: Berinteraksi tatap muka untuk melatih kemampuan komunikasi non-verbal yang mulai hilang akibat terlalu sering berkomunikasi via teks.

Menjaga kesehatan otak ternyata tidak serumit yang dibayangkan. Dengan bijak menggunakan teknologi dan tetap aktif bergerak, kita bisa menjaga aset paling berharga dalam tubuh kita tetap berfungsi maksimal. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#kecerdasan #gaya hidup #kebiasaan sehat #ahli saraf #IQ