Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Udah Tahu Nggak Dibalas, Tapi Masih Bertahan? Ferry Irwandi Kupas Fenomena Cinta Sepihak yang Bikin Canduan

Antika Luviana • Kamis, 19 Februari 2026 | 19:05 WIB

Influencer Indonesia, Ferry Irwandi yang kini dilaporkan Dansat Siber TNI ke Polda Metro terkait dugaan tindak pidana.
Influencer Indonesia, Ferry Irwandi yang kini dilaporkan Dansat Siber TNI ke Polda Metro terkait dugaan tindak pidana.

RADARTUBANFenomena cinta sepihak alias “cinta sendiri” makin sering jadi bahan curhat generasi muda.

Bukan cuma di tongkrongan atau media sosial, tapi juga dibedah serius oleh kreator konten Ferry Irwandi dalam salah satu videonya di YouTube.

Bahasanya sederhana, tapi isinya bikin auto refleksi.

Fery menjelaskan bahwa kita sering kali kita bertahan bukan karena dia luar biasa spesial.

Tapi karena kita sudah terlalu dalam menaruh perasaan. Kita sudah terlanjur all in, sementara dia mainnya setengah hati.

Cinta sepihak biasanya terlihat dari effort yang timpang. Kamu yang selalu mulai chat. Kamu yang cari waktu.

Baca Juga: Polemik TNI dengan Ferry Irwandi Berakhir, DPR Ingatkan Pentingnya Keteladanan Institusi Pertahanan

Kamu yang memikirkan masa depan. Sementara dia? Responsnya acak. Kadang manis, kadang menghilang.

Anehnya, justru ketidakpastian itu yang bikin makin lengket.

Sekali dia bersikap baik, rasanya seperti dapat jackpot kecil. Perhatian singkat itu cukup untuk menutup semua sikap dinginnya sebelumnya. Padahal kalau ditarik garis besar, pola perlakuannya tidak pernah benar-benar konsisten.

Secara psikologis, kondisi ini berkaitan dengan istilah sunk cost fallacy. "Sederhananya, sudah sejauh ini, masa mau berhenti?” kata dia.

Kita merasa sudah investasi banyak—waktu, tenaga, perasaan, bahkan air mata. Mundur sekarang terasa seperti kalah. Padahal bertahan di hubungan yang tidak sehat juga bukan berarti menang.

Ada pula efek imbalan tak pasti yang bikin candu. Otak manusia cenderung lebih “ketagihan” pada perhatian yang muncul sesekali dibanding yang stabil dan konsisten.

Itulah mengapa balasan story sederhana bisa bikin senyum seharian, meski minggu sebelumnya dia tak memberi kabar.

Kita akhirnya hidup dari harapan kecil, bukan kepastian yang jelas.

Lebih dalam lagi, mencintai dia kadang sudah menjadi bagian dari identitas diri. Kita merasa menjadi sosok yang setia, pejuang, dan tidak gampang menyerah.

Saat berpikir untuk berhenti, yang terasa hilang bukan cuma dia—tapi juga versi diri yang selama ini kita bangun.

Padahal cinta yang sehat selalu punya satu ciri utama: timbal balik.

Hubungan yang sehat tidak membuat seseorang kehilangan harga diri atau terus-menerus merasa harus membuktikan diri.

Jika kamu terus bertanya, “Dia sayang nggak sih?”, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan perasaannya, melainkan kelayakan hubungan itu sendiri.

Karena pada akhirnya, setiap orang pantas dicintai dengan jelas. Bukan sekadar diberi harapan tipis-tipis yang tak pernah benar-benar jadi kepastian. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#cinta #move on #ferry irwandi