Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Ingin Tetap Bugar Saat Puasa? Dokter Bagikan Tips Sahur dan Berbuka yang Menjaga Energi dan Anti-Aging

Rista Dwi Indarwati • Minggu, 22 Februari 2026 | 06:35 WIB

Pola Makan Sehat Selama Ramadan
Pola Makan Sehat Selama Ramadan

RADARTUBAN – Ketika memasuki bulan suci Ramadan, kebiasaan makan masyarakat mengalami perubahan yang signifikan.

Tidak jarang, pekan pertama puasa justru menimbulkan keluhan penyakit maag hingga peningkatan kasus diabetes.

Kondisi ini diperkirakan berasal dari kesalahan dalam memilih sumber energi saat sahur dan berbuka.

Tenaga kesehatan, dr. Indra Gunawan, menjelaskan bahwa puasa secara medis merupakan saat yang tepat untuk melakukan reset atau menyalakan ulang metabolisme tubuh.

Akan tetapi, proses ini memerlukan kandungan nutrisi yang padat (nutrient density), bukan hanya kalori kosong dari gula dan tepung.

"Sahur bukan hanya sekadar mengisi perut. Tujuannya adalah mempertahankan kestabilan gula darah selama 14 jam ke depan, bukan mengalami fluktuasi yang naik turun," jelas dr. Indra dalam penyampaian materi kesehatan.

Menurut pandangannya, tantangan utama saat sahur adalah karbohidrat sederhana seperti nasi putih yang berlebihan, mi instan, atau teh manis.

Jenis makanan ini serupa dengan membakar kertas, api yang muncul cepat besar namun juga cepat padam, sehingga menyebabkan tubuh terasa lemah di sekitar jam 10 pagi.

Menurut Dr. Indra ada 3 cara menjaga nutrisi agar ibadah puasa tetap bugar :

1. Sahur: Utamakan "Kayu Jati" daripada "Kertas"

Untuk memperoleh energi yang tahan lama, utamakan konsumsi protein dan lemak sehat.

Protein seperti telur, ikan, atau ayam efektif menekan hormon lapar (grelin).
Sementara lemak sehat dari alpukat atau minyak zaitun memperlambat proses pengosongan lambung.

Tips Penting: Konsumsi susu atau yogurt saat sahur. Kandungan protein kasein di dalamnya dicerna secara perlahan, melepaskan asam amino secara bertahap selama 6-7 jam untuk menjaga massa otot.

Bagi yang mengalami intoleransi laktosa, tempe goreng atau rebus menjadi alternatif protein lepas lambat yang ekonomis dan efektif.

2. Berbuka: Jauhi Sugar Shock

Kesalahan fatal saat berbuka adalah langsung menenggak es sirup atau teh manis kental dalam keadaan perut kosong.

Hal tersebut memicu lonjakan insulin yang justru menghambat hormon pertumbuhan (HGH) dan mengakibatkan penumpukan lemak di area perut.
Protokol yang Tepat: Mulailah dengan air kelapa murni sebagai pengganti isotonik alami atau air putih.

Lanjutkan dengan gula alami dari kurma yang mengandung kalium tinggi untuk mendukung fungsi saraf dan otot.

3. Urutan Makan (Food Sequencing)

Dr. Indra tidak melarang konsumsi takjil seperti kolak atau gorengan, namun dengan catatan urutan makan yang benar.

"Jadikan kolak sebagai hidangan penutup. Konsumsilah sayuran dan protein terlebih dahulu baru kemudian karbohidrat. Serat yang terkandung dalam sayuran akan 'membungkus' gula dan lemak jahat sehingga penyerapannya menjadi lebih lambat," terangnya.

Penelitian klinis membuktikan bahwa mengonsumsi serat sebelum karbohidrat mampu mengurangi lonjakan glukosa hingga 30-70 persen.

Dengan mengaplikasikan pola ini, puasa bukan hanya menjadi menjalankan ibadah spiritual, melainkan juga sarana regenerasi sel atau anti-aging bagi tubuh.

Maka dari itu, jangan biarkan Ramadan berlalu tanpa meningkatkan kesehatan. Siapkan "kayu jati" terbaik untuk sahur besok! (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#diabetes #puasa #kesehatan #pola makan #ramadan #sahur #makanan