Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Mengapa Berbuat Baik Justru Menyakitkan? Menyelami Filosofi Luka di Balik Ketulusan

Antika Luviana • Selasa, 24 Februari 2026 | 10:05 WIB

Ilustrasi orang berbuat kebaikan
Ilustrasi orang berbuat kebaikan

RADAR TUBAN – Pernahkah Anda merasa bahwa menjadi orang baik justru berakhir dengan kekecewaan? Diabaikan, dimanfaatkan, atau bahkan dianggap bodoh oleh lingkungan sekitar.

Fenomena psikologis dan filosofis yang mendalam ini menjadi sorotan dalam sebuah ulasan reflektif yang merujuk pada esensi kemanusiaan di tengah dunia yang kian individualis.

Ketika Kebaikan Tidak Selalu Berbuah Bahagia

Berbuat baik sering kali dianggap sebagai jalan menuju kebahagiaan. Namun, realitas kerap berkata sebaliknya.

Orang-orang yang memiliki empati tinggi justru cenderung menanggung beban emosional yang lebih besar.

Mereka lebih peka terhadap penderitaan orang lain, yang pada akhirnya membuat benteng pertahanan batin menjadi lebih rentan.

"Berbuat baik bukanlah tindakan yang bisa dilakukan sambil menjaga jarak. Seseorang harus melepaskan pusat perhatian dari dirinya sendiri dan membuka ruang bagi orang lain," tulis narasi yang menggali pemikiran para filsuf dunia tersebut.

Perspektif Filsafat: Tanggung Jawab yang Tidak Seimbang

Dalam tinjauan etika filsuf Emmanuel Levinas, tanggung jawab moral sering kali bersifat asimetris.

Artinya, seseorang tetap merasa bertanggung jawab kepada orang lain meskipun tidak menerima perlakuan yang sama.

Inilah yang membuat kebaikan terasa menyakitkan; ia memaksa manusia keluar dari zona aman ego dan membuka kemungkinan untuk terluka secara emosional.

Dunia Kompetitif dan Stigma “Terlalu Baik”

Tak jarang, masyarakat melabeli orang yang “terlalu baik” sebagai sosok naif atau bahkan bodoh.

Dari sudut pandang psikologi evolusioner dan teori permainan (game theory), individu rasional dianggap harus memaksimalkan keuntungan pribadi.

Dalam dunia yang dipandang sebagai arena kompetisi, kebaikan tanpa batas pertahanan diri sering dianggap sebagai strategi yang mudah dieksploitasi.

Dilema Manusia: Hangat atau Terluka

Filsuf Arthur Schopenhauer mengibaratkan hubungan manusia seperti landak di musim dingin. Mereka harus saling mendekat untuk mendapatkan kehangatan, meski duri masing-masing berpotensi melukai.

Menjauh berarti membeku dalam kesepian, sementara mendekat berarti menerima risiko luka sebagai konsekuensi kedekatan.

Baca Juga: 5 Kebiasaan yang Sering Disalahartikan sebagai Kebaikan, Padahal Taktik Kontrol Terselubung

Ketulusan dalam Sastra: Pelajaran dari The Idiot

Kisah klasik karya Fyodor Dostoevsky, The Idiot, melalui tokoh Pangeran Myshkin, menggambarkan mahalnya harga kejujuran dan ketulusan di tengah dunia penuh intrik.

Myshkin dianggap “idiot” bukan karena kurang cerdas, melainkan karena ia menolak terlibat dalam manipulasi sosial dan tetap mempertahankan ketulusan hati.

Kebaikan sebagai Keberanian Eksistensial

Pada akhirnya, ulasan ini mengajak warga Tuban dan pembaca untuk merenung. Menjadi baik di dunia yang dingin memang penuh risiko. Namun, kebaikan adalah cara manusia mempertahankan inti kemanusiaannya.

Meski luka mungkin menanti, memilih untuk tetap peduli merupakan bentuk keberanian eksistensial yang melampaui logika untung dan rugi.

Apakah kita tetap memilih menjadi api yang menghangatkan meski berisiko terbakar, atau menjadi lilin yang padam namun aman dalam kegelapan? Jawabannya kembali pada ketukan nurani masing-masing. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#empati #kemanusiaan #berbuat baik #kekecewaan