Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Bangun Tidur Malah Capek? Kenali 5 Pencuri Kualitas Istirahat yang Sering Mengintai

M Robit Bilhaq • Rabu, 25 Februari 2026 | 12:35 WIB

ilustrasi seseorang yang bangun tidur tapi tetap merasa capek
ilustrasi seseorang yang bangun tidur tapi tetap merasa capek

RADARTUBAN - Sering kali seseorang merasa telah menjalankan rutinitas istirahat dengan sangat ideal.

Mereka memastikan waktu tidur tercukupi, dan tidur tepat waktu secara disiplin, bahkan berhasil mencapai durasi tidur ideal selama delapan jam tanpa terputus.

Namun, sebuah anomali biasanya muncul saat fajar menyingsing, tubuh justru terasa sangat kaku, kepala didera rasa pening, dan cadangan energi seolah-olah telah terkuras habis bahkan sebelum aktivitas harian dimulai.

Kondisi keletihan yang menetap tersebut biasanya dianggap sebagai hal yang lumrah, padahal sebenarnya itu adalah sinyal peringatan serius yang dikirimkan oleh sistem tubuh kita.

Baca Juga: Ternyata Ini Pertanda Psikologis Orang yang Tidur Pakai Kaus Kaki: Kamu Salah Satunya?

Kualitas Tidur Lebih Penting daripada Durasi

Berdasarkan ulasan yang dirilis oleh YourTango, fenomena kelelahan kronis ini pada dasarnya bukan dipicu oleh kuantitas atau durasi waktu tidur yang kurang.

Masalah utamanya justru terletak pada dinamika yang terjadi selama proses tidur itu berlangsung.

Terdapat banyak hal yang mengakibatkan tubuh tidak mampu mencapai level istirahat yang berkualitas, walaupun mata telah terpejam dalam waktu yang cukup lama.

Berikut lima faktor utama yang sering luput dari perhatian kita namun berdampak besar pada kualitas istirahat.

1. Efek Konsumsi Alkohol Menjelang Tidur

Untuk melepas penat tak sedikit orang yang menikmati segelas minuman beralkohol di malam hari.

Faktanya, alkohol justru menjadi perusak fase tidur terdalam (REM sleep) terutama pada paruh kedua malam.

Meskipun alkohol memang mempercepat proses jatuh tertidur, namun alkohol menurunkan kualitas tidur secara signifikan.

Hal ini menghalangi otak dan organ tubuh untuk melakukan proses regenerasi yang maksimal, sehingga saat terbangun, badan akan tetap merasa lemas meski durasi tidur tampak mencukupi.

2. Pemilihan Perlengkapan Tidur yang Kurang Tepat

Meskipun kasur sering menjadi kambing hitam, material seprai dan selimut sebenarnya memegang peranan yang tak kalah penting.

Penggunaan kain berbahan sintetis seperti nilon atau poliester memiliki sifat memerangkap panas tubuh, yang pada akhirnya mengacaukan regulasi suhu alami manusia saat beristirahat.

Tanpa disadari, suhu yang tidak ideal ini membuat tubuh terus merasa tidak tenang sepanjang malam.

Solusi alternatifnya adalah dengan mengganti ke bahan serat alami seperti wol atau katun sehingga dapat membantu menjaga stabilitas suhu tubuh.

Baca Juga: 3 Tips Menyiapkan Ramadan Sejak Sekarang: Dari Menata Pola Tidur, Sampai Menyiapkan Pola Makan

3. Gejala Apnea Tidur yang Tidak Terdeteksi

Apnea tidur adalah gangguan kesehatan serius yang ditandai dengan berhentinya napas secara berulang kali saat seseorang tertidur.

Ciri-ciri penderitanya antara lain sering mendengkur dengan suara keras, merasakan nyeri kepala saat bangun, serta rasa lelah yang konstan di pagi hari.

Walaupun terlihat sedang tidur lelap, secara fisiologis tubuh penderitanya sebenarnya sedang dalam kondisi darurat sepanjang malam.

Banyak individu yang tidak menyadari bahwa mereka mengidap kondisi ini hingga rasa lelah yang dirasakan mencapai tahap yang mengkhawatirkan.

4. Dampak Kafein yang Masih Mengalir dalam Sistem Tubuh

Setelah masuk ke dalam tubuh, kafein tidak menghilang secara instan.

Meminum kopi atau minuman berenergi lainya saat sore hari atau malam hari dapat mengakibatkan otak terus berada dalam mode simulasi saat tubuh seharusnya masuk ke fase istirahat.

Hal ini memicu pola tidur yang dangkal dan tidak memberikan efek kesegaran.

5. Beban Pikiran dan Stres yang Terbawa hingga ke Pembaringan

Stres merupakan faktor penghambat kualitas tidur yang paling tersembunyi.

Kondisi pikiran yang terus berputar, rasa cemas yang muncul sesaat setelah merebahkan diri, hingga beban emosional yang tidak terselesaikan membuat tubuh sulit untuk masuk ke dalam fase tidur pemulihan.

Tanpa disadari, waktu malam yang seharusnya digunakan untuk relaksasi justru menjadi momen di mana otak dipaksa bekerja lebih keras dibandingkan waktu terjaga.

Tidur Berkualitas Adalah Kunci Energi Maksimal

Kelelahan yang datang secara bertubi-tubi tidak boleh dianggap sebagai hal yang wajar.

Tubuh manusia memiliki cara tersendiri untuk memberi tahu adanya ketidakseimbangan sistem internal.

Dengan memahami dan mengidentifikasi gangguan-gangguan yang tidak kasat mata ini, aktivitas tidur bukan lagi sekadar pemenuhan kewajiban rutinitas, tetapi menjadi sebuah proses pemulihan sejati yang mampu memberikan energi maksimal untuk menjalani hari dengan lebih segar dan fokus. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#kualitas tidur #bangun tidur #stres #gangguan tidur #Capek #tidur