Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Jangan Gampang Melabeli Orang Lain: Fenomena Self-Diagnose dan Istilah Psikologi Populer

M. Afiqul Adib • Minggu, 8 Maret 2026 | 14:05 WIB

Self-diagnose tanpa bantuan profesional bisa menimbulkan kesalahpahaman tentang kondisi kesehatan mental.
Self-diagnose tanpa bantuan profesional bisa menimbulkan kesalahpahaman tentang kondisi kesehatan mental.

RADARTUBAN - Belakangan ini, istilah psikologi seperti Narcissistic Personality Disorder (NPD), Avoidant, hingga ADHD semakin sering dipakai di media sosial.

Sayangnya, banyak orang menggunakannya secara sembarangan, tanpa pemahaman yang benar.

Label-label ini kemudian ditempelkan ke orang lain atau bahkan ke diri sendiri, seolah-olah diagnosis bisa dilakukan hanya dengan membaca postingan atau menonton video singkat.

Bahaya Self-Diagnose

Self-diagnose atau mendiagnosis diri sendiri tanpa bantuan profesional bisa berbahaya.

Pertama, hal ini bisa menimbulkan kesalahpahaman tentang kondisi mental yang sebenarnya.

Kedua, label yang salah justru bisa memperburuk keadaan, membuat seseorang merasa terjebak dalam identitas yang tidak tepat.

Ketiga, penggunaan istilah medis secara sembarangan bisa meremehkan orang yang benar-benar mengalami gangguan tersebut.

Pentingnya Kredibilitas Sumber

Saran yang bijak adalah selalu memeriksa kredibilitas orang yang membahas topik kesehatan mental. Apakah ia seorang psikolog, psikiater, atau ahli yang memang memiliki latar belakang akademis?

Atau sekadar konten kreator yang mengutip istilah populer untuk menarik perhatian? Di era digital, siapa pun bisa berbicara tentang apa saja, tetapi tidak semua informasi layak dijadikan rujukan.

Perspektif Sosiologis dan Budaya Digital

Fenomena ini juga bisa dilihat dari sisi budaya digital. Media sosial mendorong orang untuk mencari identitas dan validasi.

Menggunakan istilah psikologi populer memberi kesan “paham” dan “relatable,” padahal sering kali hanya mengikuti tren.

Akibatnya, istilah medis yang seharusnya serius berubah menjadi jargon sehari-hari yang kehilangan makna aslinya.

Melabeli orang lain dengan istilah psikologi atau melakukan self-diagnose bukanlah hal yang bijak.

Istilah seperti NPD, Avoidant, atau ADHD memiliki definisi klinis yang kompleks dan hanya bisa ditegakkan oleh profesional.

Sebelum menerima atau menyebarkan informasi, penting untuk selalu mengecek kredibilitas sumber. Dengan begitu, kita bisa menjaga kesehatan mental tetap dipahami secara serius, bukan sekadar tren digital yang dipakai asal-asalan. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#adhd #psikologi #media sosial #NPD