RADARTUBAN - Selain menggemari berbagai cabang olahraga fisik seperti lari, berenang, dan voli, Zumrotus Sholikhah juga menyukai gemulai anggun tarian tradisional.
Kiprahnya membuktikan, bahwa dedikasi terhadap budaya bisa tetap berjalan beriringan dengan gaya hidup aktif di masa kini.
Baginya, menari bukan sekadar hobi di sela kesibukan sekolah, melainkan juga sebagai cara untuk menjaga identitas budaya bangsa agar tidak lekang oleh gempuran zaman yang semakin dinamis.
Leha, sapaan karibnya mengaku, kecintaannya pada dunia seni tumbuh sejak usia dini. Berawal dari kegemaran menonton pertunjukan tari, dia kemudian tertarik untuk aktif menekuni bidang ini hingga beranjak remaja.
‘’Bagian yang paling aku sukai dari tari tradisional adalah maknanya. Setiap gerakan memiliki cerita tersendiri dan filosofi yang mendalam,’’ tutur dara asal Desa Kapu, Kecamatan Merakurak itu.
Berbeda dengan tarian modern, kata dia, yang tujuannya lebih kepada kreativitas bebas yang dibuat sendiri.
Siswi SMAN 4 Tuban ini menyebut ada kepuasan batin yang mendalam ketika dirinya berhasil menaklukkan gerakan-gerakan yang sulit.
Terlebih, yang membutuhkan konsentrasi tinggi serta sinkronisasi yang tepat antara raga dan irama musik pengiring. Kecintaan dan dedikasinya pun berbuah manis melalui deretan pencapaian apik yang telah dia kantongi.
Mulai dari lomba pemilihan 10 penari terbaik Kabupaten Tuban, tampil dalam pembuka Tuban Specta Night, hingga ikut serta dalam event di Boyolali, Jateng.
Bertahun-tahun kiprahnya sebagai seorang penari membuat Leha akhirnya menguasai berbagai jenis tarian, seperti tari miyang, kembang gambyong, tari jaranan, hingga tari remo.
‘’Bagiku, tari remo lumayan sulit dibandingkan tari yang lain. Karena pada tarian ini, gerakan kepala, tangan, dan kaki harus menyesuaikan irama musiknya,” ungkap Leha.
Lebih lanjut, gadis 18 tahun ini mengatakan, tantangan di era saat ini bagi pelestari tradisi budaya terletak pada stigma kuno di masyarakat.
Baca Juga: Dari Mimpi Juara UCL ke Isyarat Pergi, Enzo Fernandez Mulai Ragu dengan Masa Depannya di Chelsea
Leha berpendapat, generasi muda saat ini lebih banyak terpapar budaya pop atau K-pop.
Sehingga, diperlukan cara promosi yang kreatif tanpa menghilangkan esensi tarian tradisionalnya. Menurut dia, tari tradisional adalah identitas budaya bangsa dan warisan leluhur.
Jika kita generasi muda tidak peduli, lanjut dia, siapa lagi yang akan melestarikannya? ‘’Aku khawatir jika budaya kita akan hilang atau bahkan diakui pihak lain jika kita abai,” imbuhnya.
Ke depan, remaja Aries ini berkomitmen untuk terus mengasah kemampuannya dan menjadi motivator bagi anak muda lainnya untuk ikut serta mencintai dan melestarikan berbagai budaya dan tarian tradisional.
‘’Cobalah mengenal lebih dalam sebelum menilai. Kita bisa tetap mengikuti tren modern, namun jangan sampai melupakan akar dan identitas kita sendiri,” pungkasnya. (saf/ds)
Editor : Muhammad Azlan Syah