RADARTUBAN – Di balik gemerlap lampu panggung dan deretan piala penghargaan yang diraihnya, aktor watak Reza Rahadian ternyata memiliki sisi kehidupan yang sangat kontemplatif.
Dalam sebuah obrolan mendalam di kanal YouTube Suara Berkelas, pemeran tokoh BJ Habibie ini membagikan pandangannya yang tajam mengenai batasan privasi dan seni "belajar kalah" di tengah hingar-bingar dunia hiburan yang serba terbuka.
Baca Juga: Lee Chang Hee Apresiasi Tinggi Akting Reza Rahardian dan Rio Dewanto di Film Keadilan
Benteng Privasi di Tengah Badai Oversharing
Reza menyoroti fenomena masyarakat modern, terutama di kalangan figur publik, yang terjebak dalam arus oversharing atau berbagi informasi pribadi secara berlebihan.
Baginya, privasi bukan sekadar hak, melainkan pilihan sadar yang harus dijaga dengan ketat oleh pemiliknya sendiri.
"Sesuatu yang kamu ingin simpan sebagai hal pribadi maka simpanlah itu sebagai hal pribadi bukan untuk dibuka di ruang publik," tegas Reza dengan nada bicara yang tenang namun berwibawa.
Menurutnya, banyak orang yang mengeluhkan hilangnya privasi, padahal merekalah yang mengundang publik untuk masuk.
"Dan ketika itu dibuka dan publiknya bisa punya akses, don't be surprise. Iya, you open the gate so people can come in," imbuhnya.
Filosofi Belajar Kalah dan Penerimaan Diri
Salah satu poin yang paling menyentuh dalam diskusi tersebut adalah pentingnya mentalitas untuk menerima kegagalan.
Reza menyayangkan pola asuh sosial yang hanya menuntut seseorang untuk menjadi pemenang tanpa membekali mereka dengan kemampuan untuk jatuh dan bangkit kembali.
Ia teringat pesan mendalam dari aktor senior Slamet Rahardjo yang menjadi pegangannya hingga kini.
"Karena society tidak mengajarkan kita bagaimana belajar kalah. Society mengajarkan kita untuk menang. Kamu perlu belajar kalah karena dari belajar kekalahan kamu tahu bagaimana menerima keadaan dengan lebih baik," tuturnya.
Baginya, kekalahan adalah guru terbaik untuk mendewasakan reaksi terhadap kekecewaan.
Baca Juga: Nadin Amizah Restui Lagu Rayuan Perempuan Gila Jadi Soundtrack Film Pangku Garapan Reza Rahardian
Manusia Sebagai 'Virus' dan Pentingnya Kesunyian
Diskusi berkembang ke arah yang lebih filosofis saat Reza menyinggung dampak destruktif manusia terhadap alam.
Ia mengutip sebuah pemikiran yang menyebutkan bahwa manusia berpotensi menjadi "virus" bagi bumi jika tidak mampu mengontrol sifat destruktifnya dalam mengeruk sumber daya alam tanpa memikirkan dampak jangka panjang.
Untuk menghindari jebakan reaktif tersebut, Reza memilih untuk merayakan kesunyian.
Baginya, berdamai dengan kebosanan (boredom) adalah keahlian yang mahal di era sekarang.
"Saya tidak harus sibuk supaya saya merasa tervalidasi bahwa saya produktif, hidup saya bermakna. Enggak. Dalam kesunyian, dalam diam, saya harus menemukan makna apa yang saya temukan dalam sunyi dan diam itu," jelasnya.
Melawan Nasihat Terburuk di Awal Karier
Perjalanan karier Reza pun tak luput dari keraguan orang lain. Ia mengaku pernah menerima nasihat terburuk dari seorang tokoh industri yang menyebutnya tidak cocok di dunia akting dan menyarankannya untuk mencari pekerjaan lain.
Beruntung, ia memilih untuk mendengarkan panggilan jiwanya.
"Itu adalah the worst advice I've ever gotten in my life. Karena kalau saya percaya terus-menerus, ya kita enggak ngobrol hari ini," kenangnya. Kini, dengan segala pencapaiannya, Reza tetap memilih untuk tetap membumi (grounded) dengan menjaga hubungan erat bersama keluarga dan sahabat sebagai jangkar identitasnya yang paling jujur. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni