Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Mengenal Divine Feminine: Kunci Kebahagiaan Otentik dan Hubungan yang Lebih Sehat

Nadia Nur Riyadotul Aicha • Selasa, 31 Maret 2026 | 09:03 WIB
ilustrasi feminim energi. (Freepik.com)
ilustrasi feminim energi. (Freepik.com)

RADARTUBAN – Di tengah gempuran dunia modern yang menuntut kecepatan dan logika, banyak perempuan tanpa sadar mengubur sisi alamiah mereka.

Fenomena ini sering kali berujung pada kelelahan mental, stres, hingga disfungsi dalam hubungan rumah tangga.

Menanggapi hal tersebut, Mega Clara Kartika, seorang hipnoterapis sekaligus feminity coach, mengajak para perempuan untuk kembali mengenal Divine Feminine Energy sebagai jalan menuju pemulihan diri seutuhnya.

Mega mengungkapkan bahwa setiap manusia sejatinya memiliki dua energi, yakni feminin dan maskulin. Namun, tuntutan zaman sering kali memaksa perempuan untuk tampil terlalu dominan pada energi maskulin (bekerja, mengatur, melindungi) hingga melupakan esensi feminin yang berkaitan dengan rasa, intuisi, dan keterhubungan spiritual.

Baca Juga: Ahmad Dhani Beberkan Rencana Pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju Menikah : Setelah Lebaran 2026

Pernikahan Sebagai Cermin Evolusi Jiwa

Bagi Mega, hubungan dengan pasangan bukan sekadar ikatan legal, melainkan "ultimate mirror" atau cermin utama bagi kondisi batin seseorang.

Masalah yang muncul dalam rumah tangga sering kali merupakan pantulan dari luka batin yang belum selesai di masa lalu.

"Pasangan kita itu adalah orang yang jadi cermin buat kita. Kalau perempuan suka menekan perasaannya hanya untuk menyenangkan orang lain, dia akan menarik laki-laki yang secara emosional tidak tersedia atau bahkan manipulatif," ujar Mega dalam bincang hangat di kanal YouTube Cauldron Content.

Ia menjelaskan bahwa ketika seorang perempuan terlalu mengambil alih semua peran (overfunctioning), hal itu justru membuat pasangannya kehilangan ruang untuk berperan.

"Laki-laki butuh diterima, dan perempuan butuh dimengerti. Jika dinamika ini tidak seimbang, pernikahan akan terasa hambar dan penuh konflik," imbuhnya.

Menelusuri Akar Trauma Hingga Masa Janin

Perjalanan Mega menjadi seorang feminity coach bermula dari pengalaman pribadinya menghadapi postpartum depression setelah melahirkan.

Melalui proses hipnoterapi, ia menemukan fakta mengejutkan bahwa trauma yang dialaminya berakar jauh hingga masa ia masih di dalam kandungan.

"When we connect to our emotion, kita sebenarnya bisa memproses trauma yang kita tidak sadari, bahkan waktu kita masih di dalam kandungan. Saya menemukan memori penolakan karena saat itu ayah saya sangat menginginkan anak laki-laki," ungkap Mega.

Menurutnya, pemulihan (healing) bukanlah proses yang linear, melainkan spiral.

"Kita sampai mati akan terus mengupas lapisan trauma untuk menemukan diri kita yang paling organik, yang paling sesuai fitrah," tuturnya dengan penuh keyakinan.

Sisterhood: Memutus Rantai Kompetisi Antar Perempuan

Selain hubungan dengan pasangan, Mega juga menyoroti fenomena

"Sister Wound" atau luka sesama perempuan yang sering kali bermanifestasi dalam bentuk kompetisi dan kebencian. Padahal, esensi energi feminin adalah kolaborasi dan pengasuhan (nurturing).

"Dalam budaya patriarki, perempuan sering dipisahkan dan dibuat bersaing. Padahal, pertemanan perempuan seharusnya menjadi tempat yang aman (sanctuary) untuk saling merasakan perasaan tanpa penghakiman," jelas perempuan yang gemar mengenakan kebaya ini.

Mega menekankan bahwa dengan mengaktifkan energi feminin, perempuan tidak menjadi lemah, melainkan menjadi otentik. Menjadi otentik berarti berani mengekspresikan kejujuran tanpa rasa takut.

"Perempuan yang bahagia itu membuat laki-laki bahagia. Kebahagiaan perempuan adalah esensi bagi harmoni dunia," pungkasnya. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#mega clara kartika #feminity coach #divine feminine energy #pernikahan #hubungan #feminim