RADARTUBAN - Dunia kerja hari ini tak lagi menjanjikan stabilitas jangka panjang sebagaimana yang dinikmati generasi sebelumnya.
Karier bukan lagi jalur lurus yang aman, melainkan lanskap dinamis yang bisa berubah dalam hitungan detik—dipicu oleh lonjakan kecerdasan buatan, disrupsi industri, hingga gejolak ekonomi global.
Bagi Generasi Z yang baru menapakkan kaki di dunia profesional, realitas ini menghadirkan satu hal yang tak terelakkan: kecemasan akan masa depan.
Ancaman pemutusan hubungan kerja, stagnasi karier, atau bahkan hilangnya relevansi profesi menjadi bayang-bayang yang nyata.
Baca Juga: Kontroversi VAR di Laga Roma, Gasperini: Jika Tidak Yakin Lebih Baik Cari Pekerjaan Lain!
Di tengah ketidakpastian itulah, career cushioning muncul sebagai strategi adaptif—sebuah cara untuk “menyediakan bantalan” sebelum jatuh.
Bukan bentuk ketidaksetiaan pada tempat kerja, melainkan langkah sadar untuk menjaga keberlangsungan hidup profesional.
Career cushioning adalah upaya aktif dan terencana untuk memastikan diri tetap relevan dan memiliki daya saing di pasar kerja, bahkan saat masih berada di posisi yang terlihat aman. Ini bukan tentang bersiap keluar, tetapi tentang bersiap jika harus keluar.
Langkah-langkah produktif: memperbarui portofolio secara berkala, membangun jejaring lintas industri, hingga terus meng-upgrade keterampilan yang sedang dibutuhkan pasar.
Intinya sederhana—jika hari esok perusahaan memutuskan untuk berpisah, kita tidak memulai dari nol.
Sayangnya, praktik ini kerap disalahpahami sebagai tanda kurang loyal atau indikasi ingin resign. Padahal, justru sebaliknya. Individu yang memiliki “bantalan karier” cenderung bekerja dengan lebih percaya diri.
Mereka tidak lagi dikendalikan oleh rasa takut kehilangan pekerjaan, sehingga mampu mengambil keputusan secara lebih rasional dan profesional.
Lebih jauh, career cushioning juga menyentuh aspek identitas diri. Banyak pekerja yang tanpa sadar menggantungkan harga dirinya pada jabatan.
Ketika jabatan itu hilang, rasa percaya diri ikut runtuh. Strategi ini mengajak untuk memisahkan identitas diri dari posisi kerja—melihat diri sebagai profesional yang mandiri, bukan sekadar pemegang jabatan.
Di era yang serba tidak pasti, memiliki “bantalan” bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan.
Career cushioning adalah bentuk kesiapan, kemandirian, sekaligus ketahanan—baik secara ekonomi maupun emosional. (saf/yud)
Editor : Yudha Satria Aditama