RADARTUBAN– Perdebatan klasik mengenai efektivitas mahasiswa berorganisasi melawan mahasiswa non-organisasi kembali mencuat ke permukaan.
Dalam sebuah diskusi bertajuk "Suara Mahasiswa", para aktivis kampus dan mahasiswa yang memilih jalur mandiri (non-organisasi) saling lempar argumen tajam mengenai opportunity, beban kerja, hingga stigma pencitraan yang melekat pada anak organisasi.
Adu Argumen Soal Peluang Kerja
Stigma bahwa anak organisasi memiliki peluang kerja lebih besar menjadi pemantik utama diskusi. Salsabila Syifa, mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang mewakili suara non-organisasi, secara tegas menepis pandangan tersebut.
Menurutnya, mahasiswa non-organisasi justru memiliki fleksibilitas waktu yang lebih tinggi untuk mengeksplorasi diri di luar kampus.
Baca Juga: Ketua PBNU Bantah Terima Aliran Dana Korupsi Kuota Haji Kemenag, Tegaskan Organisasi Bersih
"Anak non-organisasi punya banyak opportunities, seperti ikut lomba, kerja part-time, magang, hingga penelitian. Segala aspek fleksibilitas ada di mereka," tegas Salsabila.
Pernyataan ini langsung disanggah oleh perwakilan anak organisasi yang menekankan pentingnya pengalaman struktural.
Menurut para aktivis, ada pengalaman spesifik yang hanya didapat di dalam organisasi, seperti pemahaman birokrasi, advokasi, hingga produk hukum internal kampus yang sangat berguna di dunia kerja.
Soroti Budaya 'Rapat Tengah Malam' dan Fleksibilitas
Salah satu poin yang cukup panas adalah mengenai manajemen waktu.
Anak non-organisasi seringkali memandang organisasi sebagai beban yang tidak efisien, terutama dengan budaya rapat yang bisa berlangsung hingga dini hari.
"Aturan di dalam struktur seringkali tidak fleksibel dan cenderung mengkerdilkan gagasan individu," ujar Zidan, salah satu mahasiswa non-organisasi.
Ia mengibaratkan sistem organisasi yang sudah tidak sehat seperti septic tank, di mana berlian sekalipun yang masuk ke dalamnya akan tetap terlihat kotor jika sistemnya sudah rusak.
Namun, tudingan ini dimentahkan oleh para aktivis kampus masa kini. Mereka mengklaim bahwa budaya rapat sampai pagi sudah mulai ditinggalkan.
"Organisasi saya sudah menghilangkan budaya rapat tengah malam. Kami maksimal rapat sesuai jam kerja sampai jam 5 sore. Ini soal bagaimana kita menghilangkan budaya yang sudah tidak relevan," timpal salah satu ketua BEM dalam diskusi tersebut.
Baca Juga: Trump Tarik Amerika Serikat dari 66 Organisasi Internasional, Termasuk Sejumlah Badan Utama PBB
Tudingan Pencitraan dan "Pansos" Kampus
Diskusi semakin memanas saat Alif Almuzani, mahasiswa Film dan Televisi UPI, melontarkan kritik pedas mengenai motivasi mahasiswa masuk organisasi. Ia menyebut kecenderungan mahasiswa berorganisasi saat ini lebih ke arah pencitraan atau "pansos" (panjat sosial).
"Mahasiswa organisasi kebanyakan cenderung pencitraan. Mereka masuk sana biar terlihat menonjol dan menyinari diri sendiri seakan-akan keren," cetus Alif. Ia bahkan menyebut angka 30-40 persen motivasi mahasiswa berorganisasi hanyalah untuk terlihat keren di mata orang lain.
Menanggapi hal itu, perwakilan organisasi dari mahasiswa kedokteran memberikan pembelaan bahwa organisasi adalah wadah praktis untuk mengasah critical thinking dan problem solving yang nyata.
"Wadah setiap orang berbeda. Bagi saya yang calon dokter, saya butuh wadah untuk melatih penegakan diagnosis dan rencana perawatan yang tepat melalui organisasi. Itu bukan pencitraan, tapi persiapan untuk mempertaruhkan nyawa orang lain nantinya," jelasnya.
Perdebatan ini menyimpulkan bahwa baik organisasi maupun non-organisasi memiliki nilai plus masing-masing.
Kuncinya bukan pada wadahnya, melainkan pada kemauan individu untuk berkembang dan bagaimana mereka memaksimalkan kesempatan yang ada selama masa kuliah. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni