RADARTUBAN - Dalam beberapa tahun terakhir, sebuah filsafat kuno dari era Yunani–Romawi kembali naik daun.
Bukan melalui ruang kuliah atau diskusi akademik, melainkan lewat konten TikTok, utas di X (Twitter), hingga buku-buku self-improvement yang merajai rak best seller.
Filsafat itu adalah stoikisme, yang di Indonesia juga populer dengan sebutan Filosofi Teras.
Menariknya, ajaran yang telah berusia lebih dari dua ribu tahun ini justru menemukan momentum kebangkitannya di tangan Generasi Z dan milenial.
Baca Juga: 6 Strategi Bijak Menghadapi Mantan yang Kembali Berdasarkan Psikologi dan Stoikisme
Stoikisme pertama kali diajarkan oleh tokoh-tokoh seperti Zeno dari Citium, Epictetus, hingga Kaisar Romawi Marcus Aurelius sejak sekitar abad ke-3 sebelum Masehi.
Inti ajarannya sederhana namun mendalam: dalam hidup ada hal-hal yang bisa kita kendalikan dan ada yang tidak. Kita tidak bisa mengatur opini orang lain, cuaca, hasil akhir sebuah kompetisi, atau masa lalu.
Namun kita memiliki kendali penuh atas pikiran, persepsi, serta cara kita merespons peristiwa yang terjadi.
Di era hiper-konektivitas seperti sekarang, generasi muda hidup dalam paparan informasi tanpa henti.
Media sosial menghadirkan standar hidup orang lain yang tampak sempurna, berita buruk dari seluruh dunia datang silih berganti, sementara fenomena perundungan siber juga kian marak.
Kombinasi ini memicu kecemasan, fenomena FOMO (fear of missing out), hingga rasa tidak berdaya dalam menghadapi realitas yang terasa terlalu besar untuk dikendalikan.
Di titik inilah stoikisme menemukan relevansinya kembali. Filsafat ini menawarkan kerangka berpikir yang membantu seseorang menata ulang cara memandang hidup.
Dengan memahami bahwa tidak semua hal perlu dikendalikan, seseorang dapat mengurangi beban mental yang selama ini ditanggungnya.
Stoikisme juga mengajarkan ketahanan pribadi. Dalam dunia kerja yang semakin kompetitif dan tidak menentu, prinsip bertahan dalam kesulitan menjadi bekal penting.
Kegagalan, penolakan, atau rencana yang tidak berjalan sesuai harapan dipandang bukan sebagai akhir segalanya, melainkan sebagai bagian alami dari perjalanan hidup.
Yang tak kalah penting, stoikisme menekankan bahwa kebahagiaan tidak bergantung pada validasi eksternal—seperti jumlah likes di media sosial atau pengakuan orang lain.
Kebahagiaan justru bersumber dari karakter, kebajikan, dan kemampuan seseorang menjaga integritas dirinya sendiri.
Namun, menjadi seorang stoik bukan berarti menjadi manusia tanpa emosi. Stoikisme tidak mengajarkan sikap apatis. Seorang stoik tetap merasakan marah, sedih, atau kecewa—hanya saja ia berusaha agar tidak diperbudak oleh emosi tersebut.
Ada sejumlah praktik sederhana yang kerap digunakan dalam tradisi stoik.
Salah satunya premeditatio malorum, yaitu membayangkan kemungkinan terburuk agar seseorang siap secara mental dan tidak terkejut bila hal itu benar-benar terjadi.
Praktik lain adalah amor fati, yakni mencintai takdir—menerima apa pun yang terjadi sebagai bagian dari perjalanan hidup yang perlu dijalani dengan keberanian.
Selain itu, banyak penganut stoikisme juga membiasakan diri menulis jurnal pagi atau malam. Melalui catatan reflektif ini, seseorang mengevaluasi apakah tindakan dan keputusan yang diambil sepanjang hari telah selaras dengan nilai kebajikan yang diyakininya.
Pada akhirnya, stoikisme bukan sekadar tren gaya hidup yang viral di media sosial. Bagi banyak anak muda, ini menjadi semacam “alat bertahan hidup” di tengah dunia yang bising dan serba cepat.
Dengan memusatkan perhatian pada hal-hal yang dapat diubah dan melepaskan apa yang berada di luar kendali, generasi muda belajar satu hal sederhana namun mendalam: kedamaian tidak datang dari mengubah dunia, melainkan dari mengubah cara kita memandang dunia. (saf/yud)
Editor : Yudha Satria Aditama