RADARTUBAN - Saat dalam situasi yang memalukan, menerima pujian, atau saat bertatapan dengan orang yang disukai, pernahkah Anda merasa pipi tiba-tiba menghangat dan memerah.
Blushing: Reaksi Emosional yang Dipicu Proses Biologis
Hal tersebut dikenal dengan istilah blushing, fenomena ini ternyata bukan sekadar reaksi emosional biasa, melainkan sebuah proses biologis yang melibatkan hormon dalam tubuh.
Saat emosi yang kuat dirasakan oleh seseorang, tubuh akan secara otomatis memproduksi hormon adrenalin yang menyebabkan pelebaran pembuluh darah di seluruh tubuh.
Baca Juga: Dari Standar Kecantikan hingga Kesenjangan Gaji, Ini 7 Tekanan Sosial yang Sering Dihadapi Perempuan
Khusus pada bagian wajah, pembuluh darah di pipi memiliki karakteristik yang unik karena ukurannya lebih lebar dan letaknya jauh lebih dekat dengan permukaan kulit.
Kondisi anatomi yang kemudian menyebabkan aliran darah yang meningkat menjadi sangat terlihat jelas di permukaan wajah dibandingkan bagian tubuh lainnya.
Ekspresi Unik yang Hanya Dimiliki Manusia
Yang menarik adalah, para ahli evolusi menyebut bahwa blushing adalah ekspresi yang paling unik dan hanya dimiliki oleh manusia di antara seluruh makhluk hidup di bumi.
Jika dilihat dari fungsi, pipi yang memerah tersebut menjadi sinyal kejujuran yang sangat kuat karena reaksi ini merupakan refleks alami yang tidak dapat dipalsukan.
Berbeda dengan ekspresi tawa atau tangis yang bisa diatur oleh aktor, blushing memberikan bukti nyata bahwa seseorang memiliki empati dan perasaan yang tulus.
Hal ini membantu membangun kepercayaan dalam interaksi sosial karena orang lain cenderung lebih berempati saat melihat seseorang menunjukkan reaksi malu yang jujur.
Ketika Blushing Menjadi Kondisi Medis
Namun, terdapat kondisi medis yang disebut Idiopathic Craniofacial Erythema, di mana seseorang bisa mengalami pipi memerah secara berlebihan tanpa pemicu yang jelas.
Bagi seseorang yang sering merasa terganggu dengan rasa malu, para ahli menyarankan untuk menarik napas dalam-dalam guna menenangkan sistem saraf pusat.
Selain itu, penerimaan diri juga menjadi kunci utama, karena memiliki pipi merah saat malu menjadi tanda bahwa seseorang masih memiliki nurani dan perasaan yang hidup. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni