RADARTUBAN – Tumbuh dalam keluarga kelas menengah ke bawah tidak hanya memengaruhi kondisi finansial seseorang, tetapi juga membentuk pola pikir, kebiasaan, hingga cara mengambil keputusan—terutama dalam hal keuangan.
Dalam kajian psikologi, fenomena ini sering dikaitkan dengan scarcity mindset atau pola pikir kelangkaan.
Kondisi ini membuat seseorang terbiasa hidup dalam keterbatasan, sehingga cenderung berhitung dalam setiap keputusan, bahkan saat kondisi ekonomi telah membaik.
Baca Juga: AS Roma Resmi Beli Kembali Trigoria, Akhiri Dua Dekade Status Leasing Pusat Latihan Legendaris Klub
Dilansir dari Expert Editor pada Kamis (2/3), terdapat sejumlah hal yang secara finansial mungkin sudah mampu dilakukan, namun secara psikologis masih terasa “mahal” atau sulit dilakukan tanpa pertimbangan panjang. Berikut delapan di antaranya:
1. Membeli Makanan Tanpa Melihat Harga
Bagi banyak orang yang tumbuh dalam keterbatasan, mengecek harga sebelum membeli adalah kebiasaan otomatis. Meski sudah memiliki penghasilan stabil, refleks ini tetap melekat.
Secara psikologis, hal ini merupakan hasil dari pembiasaan sejak kecil, di mana setiap pembelian selalu dikaitkan dengan kondisi keuangan.
2. Mengeluarkan Uang untuk “Self-Reward”
Membeli sesuatu hanya karena keinginan, seperti gadget baru atau pakaian mahal, sering menimbulkan rasa tidak nyaman.
Mereka cenderung memiliki pola pikir utilitarian—segala sesuatu harus memiliki fungsi jelas.
Hal-hal yang bersifat emosional sering dianggap pemborosan.
3. Liburan Tanpa Perencanaan Ketat
Liburan spontan tanpa perhitungan detail dapat memicu kecemasan.
Mulai dari biaya transportasi, makan, hingga dana cadangan, semuanya ingin dipastikan terlebih dahulu.
Ini berkaitan dengan kebutuhan akan kontrol akibat pengalaman kekurangan di masa lalu.
4. Membayar untuk Kenyamanan
Menggunakan layanan antar makanan, transportasi online, atau jasa tertentu sering dianggap tidak perlu. Ada perasaan “sayang uang” karena terbiasa melakukan segala sesuatu sendiri demi menghemat biaya.
5. Mengabaikan Diskon atau Promo
Tidak memanfaatkan promo bisa terasa seperti kehilangan kesempatan besar. Bahkan saat barang tidak terlalu dibutuhkan, diskon tetap menarik perhatian.
Hal ini berkaitan dengan loss aversion, yaitu kecenderungan lebih takut kehilangan peluang dibandingkan manfaat yang diperoleh.
6. Membeli Barang Berkualitas Tinggi dengan Harga Mahal
Meskipun lebih awet, harga tinggi di awal sering terasa berat secara psikologis. Akibatnya, banyak yang lebih memilih barang murah meski harus sering mengganti.
7. Memberi Tip atau Berbagi Secara Spontan
Memberi dalam jumlah besar tanpa perencanaan sering terasa sulit. Ini bukan karena tidak ingin berbagi, melainkan adanya kebiasaan untuk memprioritaskan kebutuhan sendiri sebagai bentuk perlindungan finansial.
8. Merasa Aman Secara Finansial
Sulit merasa cukup menjadi salah satu dampak paling dalam. Berapa pun jumlah uang yang dimiliki, tetap ada kekhawatiran akan kekurangan di masa depan.
Dalam psikologi, ini dikenal sebagai financial insecurity imprint—jejak emosional dari pengalaman masa lalu.
Kebiasaan-kebiasaan tersebut bukanlah kelemahan, melainkan bentuk adaptasi dari pengalaman hidup. Pola pikir ini mencerminkan kehati-hatian dan ketahanan dalam menghadapi keterbatasan.
Namun, ketika kondisi sudah berubah, penting untuk mulai menyadari kapan perlu berhitung dan kapan bisa memberi ruang untuk menikmati hidup. Sebab, kebebasan finansial tidak hanya tentang jumlah uang yang dimiliki, tetapi juga tentang rasa aman dalam menggunakannya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni