RADARTUBAN – Di era media sosial yang terus berkembang, setiap generasi memiliki gaya tersendiri dalam menggunakan platform digital.
Facebook yang dahulu menjadi primadona lintas usia, kini lebih sering diasosiasikan dengan generasi yang lebih senior.
Hal tersebut bukan sesuatu yang buruk, bahkan kerap menghadirkan nuansa nostalgia. Namun, ada sejumlah kebiasaan yang tanpa disadari dapat “mengungkap umur digital” seseorang di platform tersebut.
Dilansir dari Expert Editor pada Rabu (8/4), kebiasaan ini kerap membuat pengguna lain, khususnya generasi muda, tersenyum geli. Berikut delapan kebiasaan yang dimaksud:
Baca Juga: Seorang Anggota Polisi Undur Diri di Facebook, Polda Sulut Bantah Kaitan Kasus Korupsi
Pertama, menulis status seperti surat resmi. Sebagian pengguna masih terbiasa membuka status dengan kalimat panjang dan formal, layaknya pidato. Misalnya, ucapan selamat pagi disertai doa panjang.
Meski penuh niat baik, gaya ini dinilai terlalu kaku bagi generasi muda yang lebih menyukai komunikasi singkat dan santai.
Kedua, mengucapkan selamat ulang tahun di timeline sendiri.
Alih-alih menunggu ucapan dari orang lain, ada yang justru mengumumkan ulang tahunnya sendiri di Facebook.
Bagi sebagian pengguna muda, hal ini terkesan seperti pengumuman resmi, meski sebenarnya bertujuan berbagi momen.
Ketiga, terlalu sering membagikan informasi yang belum jelas kebenarannya. Kebiasaan membagikan konten tanpa verifikasi masih sering ditemui. Sementara generasi yang lebih melek digital cenderung melakukan pengecekan fakta terlebih dahulu sebelum menyebarkan informasi.
Keempat, menggunakan emoji secara berlebihan. Penggunaan emoji dalam jumlah banyak dalam satu postingan menjadi ciri khas tersendiri. Jika satu emoji dianggap ekspresif, penggunaan beruntun justru dinilai berlebihan oleh generasi muda yang cenderung minimalis.
Kelima, menandai banyak orang tanpa konteks. Menandai puluhan orang dalam postingan umum seperti ucapan selamat pagi sering kali membingungkan penerima tag.
Niat menyapa justru bisa terasa tidak relevan bagi sebagian pengguna.
Keenam, mengomentari hampir semua postingan dengan respons serupa.
Komentar seperti “hadir”, “mantap”, atau “sehat selalu” memang konsisten, namun tidak selalu sesuai dengan konteks postingan. Hal ini menjadi pola yang cukup mudah dikenali.
Ketujuh, menggunakan Facebook seperti grup WhatsApp.
Beberapa pengguna memanfaatkan Facebook untuk komunikasi personal, seperti menitip pesan langsung kepada individu tertentu.
Padahal, bagi generasi muda, Facebook dipahami sebagai ruang publik.
Kedelapan, mengunggah foto dengan caption yang sangat panjang dan detail.
Sebagian pengguna menuliskan keterangan foto secara rinci, mulai dari waktu hingga lokasi pengambilan gambar.
Sementara tren saat ini cenderung mengarah pada caption singkat, bahkan hanya berupa satu kata atau emoji.
Sebagai penutup, perbedaan kebiasaan ini sejatinya bukan soal usia, melainkan gaya penggunaan media sosial yang berkembang seiring waktu. Setiap generasi membawa karakteristiknya masing-masing dalam berinteraksi di ruang digital.
Alih-alih menjadi hal yang dipermasalahkan, keberagaman gaya tersebut justru memperkaya dinamika media sosial.
Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah terlihat muda, melainkan tetap relevan, bijak, dan nyaman menjadi diri sendiri dalam beraktivitas di dunia digital. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni