Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Antara Tugas, Organisasi, dan Overthinking: Realita Mahasiswa Saat Ini

M. Afiqul Adib • Kamis, 16 April 2026 | 07:14 WIB
Realita mahasiswa hari ini yang makin overthinking. (javier trueba on Unsplash)
Realita mahasiswa hari ini yang makin overthinking. (javier trueba on Unsplash)

RADARTUBAN - Menjadi mahasiswa di era sekarang bukanlah perkara mudah. Tekanan akademik semakin tinggi dengan tuntutan tugas yang menumpuk, deadline yang ketat, dan standar nilai yang terus meningkat.

Banyak mahasiswa merasa kewalahan karena harus menyeimbangkan antara kuliah, organisasi, dan kehidupan pribadi. Situasi ini sering kali menimbulkan stres yang berujung pada overthinking.

Organisasi kampus sebenarnya bisa menjadi ajang pengembangan diri. Melalui organisasi, mahasiswa belajar kepemimpinan, komunikasi, dan kerja sama tim. Namun, bagi sebagian mahasiswa, organisasi justru terasa seperti beban tambahan.

Baca Juga: Organisasi vs Non-Organisasi: Debat Sengit Peluang Kerja hingga Stigma Pencitraan

Jadwal rapat yang padat, tanggung jawab yang besar, dan konflik internal kadang membuat mahasiswa kehilangan fokus pada akademik. Akibatnya, organisasi yang seharusnya menjadi wadah pengembangan malah menambah tekanan.

Overthinking menjadi fenomena yang semakin sering dialami mahasiswa. Pikiran yang berlebihan tentang tugas, masa depan, atau ekspektasi orang tua membuat mental semakin tertekan. Alih-alih produktif, overthinking justru menguras energi dan menurunkan motivasi. 

Dampaknya tidak hanya pada prestasi akademik, tetapi juga pada kesehatan mental. Mahasiswa yang terlalu sering overthinking berisiko mengalami kecemasan, insomnia, bahkan depresi ringan.

Menjaga keseimbangan hidup menjadi tantangan besar. Mahasiswa dituntut untuk berprestasi di kelas, aktif di organisasi, sekaligus menjaga kehidupan sosial. Namun, waktu dan energi yang terbatas membuat keseimbangan itu sulit dicapai.

Banyak mahasiswa akhirnya mengorbankan salah satu aspek, entah akademik, organisasi, atau kesehatan pribadi. Padahal, keseimbangan adalah kunci agar masa kuliah bisa dijalani dengan sehat dan bermakna.

Realita mahasiswa saat ini menunjukkan bahwa tekanan akademik, organisasi, dan overthinking adalah bagian dari perjalanan yang harus dihadapi. Tantangannya adalah bagaimana mengelola waktu, energi, dan pikiran agar tidak terjebak dalam lingkaran stres. 

Mahasiswa perlu belajar menetapkan prioritas, berani mengatakan tidak pada hal yang berlebihan, dan menjaga kesehatan mental.

Kuliah bukan hanya soal nilai, organisasi bukan hanya soal prestise, dan hidup bukan hanya soal memenuhi ekspektasi. Dengan keseimbangan yang tepat, masa kuliah bisa menjadi fase pembentukan diri yang lebih matang, bukan sekadar periode penuh tekanan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#overthinking #kampung #mahasiswa #depresi #organisasi